Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha
Di masa jahiliyah, wanita tidak diposisikan sebagai manusia. Mereka
diperjualbelikan, dan dijadikan komoditas nafsu. Kelemahan wanita yang
tidak dilahirkan untuk berperang dengan fisiknya, menjadi pembenaran
bagi sebagian kaum jahiliyah untuk lebih memilih membunuh mereka semasa
kecil daripada menjadi aib bagi keluarga karena tertawannya mereka di
medan perang. Wanita digambarkan sebagai laki-laki yang belum lengkap,
ia direndahkan dan dinistakan, tidak memiliki hak memilih sama sekali,
termasuk dalam hal warisan, dan siapa pasangan hidupnya, maka secara
keseluruhan wanita jauh dari martabat mulia.
Kehadiran Islam secara perlahan merevisi ragam pemikiran, adat istiadat,
kepercayaan orang tua, keyakinan keghaiban, yang tidak sejalan dengan
tujuan diciptakannya manusia, termasuk dalam hal ini, merevisi secara
total cara pandangan manusia terhadap wanita. Islam kemudian
mengembalikan wanita kepada derajat dan martabat sebenarnya sebagai
sesama hamba Allah Swt yang sejajar dan setara dalam pandangan Allah
Swt.[1]
Ketika Islam hadir, standar kebaikan wanita berganti dari yang bersifat
fana menjadi iman,[2] maka menikahi wanita dari kalangan budak jauh
lebih mulia daripada menikahi wanita musyrik meski cantiknya luar
biasa.[3] Bersama iman, wanita diposisikan sebagai kesenangan hidup di
dunia bagi setiap lelaki yang mencari ridho Allah semata[4] yang telah
memerintahkan kaum lelaki untuk berlaku seadil-adilnya kepada wanita,
sekaligus jaminan dan keamanan untuk hidup wanita dalam tanggung
jawabnya.[5]
Wanita yang menjadi perhiasan dunia itu sejatinya adalah wanita yang
mampu menjaga kehormatan dirinya hingga hari akad pernikahannya,[6] dan
Allah Swt sudah mendidiknya langsung dengan membiasakannya untuk menutup
auratnya secara benar.[7] Wanita telah dididik untuk terbiasa menjaga
lisannya dari ucapannya kepada sesama wanita pada khususnya[8] dan juga
kepada lawan jenisnya. Wanita pun dididik untuk tidak merusak aqidahnya
dengan ragam keyakinan terhadap hal-hal khurafat seperti zodiak, ramalan
tangan, ramalan perbintangan, dan keyakinan lainnya.[9]Wanita juga
diajarkan untuk menjadi ‘akuntan’ yang kredibel di rumah tangganya
sehingga menjadi kepercayaan seisi rumah.[10]
Wanita yang terbiasa hidup dalam tarbiyah Allah Swt akan termudahkan
untuk mampu menta’ati dan memposisikan suaminya sebagai imam dalam
ketaatan kepada Allah,[11] dan kebiasaannya itu memudahkannya untuk
memelihara dirinya dalam kesendirian di rumah suaminya.[12]Wanita yang
mulia adalah yang membantu suaminya meraih setengah agama.[13] Seorang
suami tidak lagi memiliki celah untuk berlaku keji kepada istrinya
dengan bentuk tuduhan tanpa bukti nyata nan zhahir,[14] menyamakan istri
dengan ibunya,[15] sehingga lahirlah kehatian-hatian dalam mengarungi
tangga pernikahan menuju maqam yang lebih tinggi, dan berhati-hati untuk
mengucapkan kalimat-kalimat buruk seperti sumpah tidak
menyentuh,[16]kalimat ‘perpisahan’ yang dibenci itu.[17]Bahkan Islam
menjaga wanita yang telah dinikahi namun belum disentuh.[18]
Islam menghadirkan sosok-sosok wanita terbaik untuk dijadikan teladan
oleh para wanita, seperti Maryam bin ‘Imran a.s.,.[19] anak-anak wanita
Syu’aib a.s.,[20]istri Ibrahim a.s,[21] istri Fir’aun,[22] istri ‘Imran
a.s.,[23] istri-istri Nabi Muhammad Saw,[24] sebagaimana dihadirkan juga
sosok-sosok wanita durhaka yang tidak layak dijadikan teladan seperti
Istri Luth a.s.[25] dan istri al-‘Aziz yang kelak bertaubat.[26]
Dalam hal menjalani kehidupan rumah tangga, wanita diingatkan akan
ketidaksamaannya dengan pria,[27] dan bahwa penciptaannya yang setingkat
lebih rendah dari pria, sehingga tidak layak wanita dipaksa bekerja di
luar rumah.[28] Islam mendorong pemisahan antara harta pria dan wanita
dalam kehidupan rumah tangga,[29] Untuk tujuan kesucian, kesehatan dan
keselamatan jiwa, seorang suami pun tidak lagi diizinkan ‘menyentuh’
wanita di kala haidh,[30] sebagaimana untuk tujuan kebaikan nasab, Islam
mengatur wanita mana yang boleh dinikahi dan mana yang tidak, seperti
menikahi wanita yang telah dinikahi ayah,[31]wanita bersuami,[32] atau
wanita-wanita tertentu.[33] Untuk tujuan ridho Allah, seluruh
perselisihan dalam rumah tangga pun diarahkan untuk diperoleh solusinya
dengan cara-cara yang baik.[34]
Pernikahan kemudian mengingatkan para pengamalnya untuk memperbanyak
generasi penyembah Allah Swt, dengan seluruh pelajaran dan hikmah yang
telah diwariskannya.[35]Mengandung dan melahirkan menjadi sebuah
aktivitas yang sangat dimuliakan dengannya.[36] Demikian pula dengan
memperhatikan seluruh asupan yang baik untuk tumbuh kembangnya dengan
baik,[37] hingga waktu yang ditetapkan Allah Swt.[38]
Pernikahan, Adalah Cara Allah Memuliakan Wanita
Written By PEJUANG SUBUH KOTA BEKASI RAYA on Senin, 11 Januari 2016 | 23.00
Related Articles
- KETIKA TAK ADA KASIH SAYANG DALAM RUMAH TANGGA
- Ustadzah Menjawab: Seputar Keluarga
- Mengenal Srikandi Islam di Jaman Rasulullah
- Muslimah Ini Terselamatkan Jatuh dari Flyover Karena Jilbab
- Curhat Seorang Muslimah; Sholat di Negeri Sendiri Malah Ditertawakan
- Wanita Itu Aurat Maka Bila Ia Keluar Rumah Syaitan Menyambutnya
Label:
keputrian
