Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

    Rubai Bin Amir (Pasukan Bertopikan Panci Masak)

    Izzah Seorang Muslim : Rubai Bin Amir (Pasukan Bertopikan Panci Masak) Salah Satu Pasukan Sa'ad Bin Abi Waqash

    Ketika Rubai di utus untuk menemui Rustum sebagai panglima Persia, datang dengan keledai membawa pisau dapur dan tombak yang dipinjam dari temannya. Ketika sampai di Istana, Rustum memerintahkan prajuritnya agar Rubai datang dengan perhormatan terhadapnya dan menghiasai seluruh istananya dengan Emas, bantal-bantal mewah dengan tujuan mengetahui apakah pasukan Muslim gila dengan harta.
    Ketika Rubai datang dan melihat pemandangan tersebut, Rubai turun dari keledainya dan mengatakan "Bagaimana dengan undangan kalian?" Kata mereka, "Kau tidak bisa masuk, kecuali kau harus menghormati Rustum mengatakan "wahai Rustum yang terhormat saya pamit mau masuk" jawab Rubai " Saya tamu, dan saya yang harus dipamiti untuk masuk bukan saya yang pamit untuk masuk!". Lalu Rubai melihat disana ada tikar diatasnya ada permadani berhiaskan emas, oleh Rubai di ambil permadaninya di belah dua dengan pisaunya diambil dan diletakan diatas keledainya di anggap sebagai Ghadimah atau harta rampasan perang. Lalu Rubai berkata, "Ini pembukaan harta Rampasan perang kami kalau kalian tidak membuka pintu untuk saya masuk." Dan perlu diketahui Rubai ini adalah Sosok yang pendek kecil tidak kekar, sedangkan orang persia itu tinggi besar dan kekar-kekar.
    Lalu Rustum memberikan masuk, dengan memerintahkan kepada prajuritnya "Baiklah, tutup pintu Gerbang buka sedikit saja. agar dia masuk tunduk kepada saya!" Tapi Allah memberikan cahaya kepada Orang beriman seperti Rubai, firasatul mukmin dengan membaca maksud dari Rustum tersebut. Karena dia berfikir ini adalah tipu daya, lalu dia membali kan badan dan bokong dia dan keledainya lalu dimasukannya dari belakang. Yang sehingga yang tadinya dia harus tunduk justru membelakangi Rustum. Lalu melapor prajurit dengan menceritakan keadaan seorang Rubai yang sudah merendahkan. Lalu jalan Rubai dengan Keledainya tanpa turun, dengan menggunakan pisau dapurnya Rubai melobangi bantal-bantal dan tombaknya digunakan untuk menusuk-nusuk karpet mewah istana yang sengaja untuk menarik perhatiannya. Hingga sampai dihadapan Rustum, berkata lah Rustum yang diterjemahkan oleh pelayannya "Hai orang-orang arab kaliankan dipadang pasir, pengembala dan tidak punya apa-apa kalau kalian butuh Harta bilang saja sebut apa yang kalian inginkan ambi ldan pulang, kalau kalian butuh gembalaan kami akan kasih berapapun Unta dan kambing berapapun yang kalian minta, kalau klian meminta jabatan pilihlah yang terbaik diantara kalian lalu aku jadikan pemimpin diantara kalian dan kami akan kasih gaji." Lalu Rubai berkata "Kami datang dari sana tidak butuh dengan harta yang kau pamerkan ini, kami datang dengan mengeluarkan Hamba termasuk kamu dan kami dari menyembah Makhluk menyembah kepada sang Pencipta Makhluk itu saja. Kalau kau patuh maka kau dengan kerajaan mu, kami akan pulang." Kisroh yang waktu itu dianggap sebagai tuhan "Berhenti menyembah Kisroh, Kisroh tetap dengan kerajaannya dan kau tetap sebagai panglima perangnya semua kau miliki tidak ada yang hilang.Itu saja" Kemuda Rustum menjawab,"Baiklah, izinkan aku berfikir. Mungkin butuh waktu" Rubai menjawab, "Berapa hari kalian butuh? 1 hari? 2 hari? "Tidak, mungkin Sebulan, 2 Bulan, atau 3 bulan kami akan musyawarah terlebih dahulu" jawab Rustum. Kata Rubai,"Kami akan kasih waktu kalian waktu 3 Hari, karena pemimpin kami Rasulullah Shlallahu'alaihi Wassalam mengizinkan musuh berfikir 3 Hari maksimal tidak boleh lebih dari itu. Kata Rustum meminta menerjemahkan kepada penterjemahnya, "Ini siapa? pemimpin mereka? kata Rubai, "Bukan, saya pasukan di paling belakang saya prajurit biasa. Lalu Rustum berkata " Kenapa bisa kamu ambil keputusan itu?" "Karena, Agama kami mengajarkan dari pemimpin kami hingga masyarakatnya terbiasa keputusannya Satu. Kalau saya sudah memberikan amanah, kemanan semua harus patuh terhadap pemimpin kami. Karena kami Satu Jasad",Jawab Rubai. Lalu kata Rustum, "baiklah izinkan orang ini pulang, lalu tulis kepada Kisro bahwa manusia yang kita hadapai 30.000 adalah manusia yang seperti Rubai. (Dengan menjelaskan ketegasannya) Untuk di hadapi susah, Keras, Tegas, dan memang maunya. Walaupun tetap peperangan berlangsung. Ibrohnya dari kisah Rubai adalah, Ketika seorang mengenal Allah harta menjadi kecil untuk dia, segala yang Allah haramkan dan seindah appaun di tinggalkan apapun itu.Dan senantiasa Allah selalu menjaga orang tersebut. Jalinlah hubungan baik dengan Allah, maka Allah akan baikan semua urusannya.

    RESUME KAJIAN ONLINE V4 : "The great of Al-Qur'an Feeling"

    Bersama Ustadz Agung Nursidik
    Segala puji bagi Allah yang telah memberi sebaik-baik nikmat berupa iman dan islam. Salawat dan doa keselamatanku terlimpahkan selalu kepada Nabi Agung Muhammad Saw berserta keluarga dan para sahabat-sahabat Nabi semuanya
    Di hari dan bulan yang spesial ini saya akan memberikan materi special juga buat kalian semua.
    Karena bulan ini adalah bulan Ramadhan, dan juga Syahrul Qur'an.
    Maka materi specialnya adalah "The Great Of Al-Qur'an Feeling By NLP”
    -          Kedahsyatan Merasakan Kekuatan Al Qur'an adalah sebuah rahasia besar kesuksesan

    -          Rahasia besar kemenangan dengan Al Qur'an
    -          Rahasia besar kebahagiaan hakiki dengan Al Qur'an
    -          Rahasia besar kesadaran penuh dengan Al Qur'an
    -          Rahasia besar keunikan penuh dengan Al Qur'an
    -          Dan segala kelebihan kelebihan yang ada hanya pada Al Qur'an
    أَفَبِہَـٰذَا ٱلۡحَدِيثِ أَنتُم مُّدۡهِنُونَ
    Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?
    Perhatikan ayat di atas.
    Allah memberikan sebuah pertanyaan kepada kita.
    Pertanyaan tersebut sebenarnya adalah kita sendiri yang bisa menjawabnya.
    Dalam kajian ini saya hanya akan menyoroti pandangan Al Qur'an terhadap manusia
    Yaitu Mengenal Manusia Dalam Pandangan Al - Qur'an
    Taukah bahwa ternyata manusia seharusnya ciptaan yang sempurnya.
    Bahkan sahabat Ali bin Abi Thalib mengatakan " Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas", maksudnya adalah, kita selalu berfikir bahwa diri kita adalah lemah, kecil, terbatas, tidak bisa berbuat apa-apa.Yang ada dalam diri mànusia selalu ada perasaan negatif seperti : tidak mungkin, sulit, susah, tidak bisa dan lain-lain.
    Padahal kalau kita lihat sejarah para sahabat Rasul. Mereka adalah orang-orang terbaik yang telah membuktikan kedahsyatan Al Qur'an. Kemenangan mereka karena Al Qur'an. Kekuatan mereka karena Al Qur'an, kehebatan dan kesuksesan mereka juga karena Ak Qur'an.Segala keterbatasan yang ada dalam diri mereka justru menjadi peluang untuk melejitkan segala potensi yang ada

    Tujuan Manusia diciptakan:
                                                                                                                                                                                              
                                                                                                                                                   
    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
    Ketika Allah mengatakan Aku hendak menciptakan Manusia sebagaiِ خَلِيفَةً ۗ  : pemimpin, pemelihara, penjaga.
    Maka Malaikat bertanya  يُفۡسِدُ فِيہَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ
     "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?
    Allah menjawab
       قَالَ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
    "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
    Ternyata sahabat Pejuang Subuh Bekasi semua kalau kita melihat jawaban Allah tersebut mengandung makna yang sangat dalam " Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahuan, jawaban tersebut ternyata mengandung makna yang sangat dalam bahwa ADA RAHASIA dalam penciptaan MANUSIA.

    Perhatikan ungkapan Malaikat dan IBLIS berikut :

    Malaikat mengatakan :
    "Manusia perusak dan pendedam"
    Iblis mengatakan :
    "Manusia lebih hina darinya"
    Sekarang yang menjadi pertanyaan kita bersama...

    Ada apa di balik rahasia penciptaan MANUSIA?⁠⁠⁠⁠
    Taukah Sahabat PS semua?  Bahwa ternyata salah satu RAHASIA ALLAH menciptakan MANUSIA adalah ada RENCANA ALLAH terhadap MANUSIA,Rencana Allah adalah bahwa DIA ingin menjadikan manusia sebagai sebaik-baiknya MAKHKUK atau MAKHKUK yang paling SEMPURNA.

     لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ فِىٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٍ
    sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
    MENGAPA sebagai makhluk yang sempurnya manusia hendak di jadikan KHALIFAH di muka bumi? Karena MANUSIA di berikan oleh Allah beberapa potensi sebagai KHALIFAH
    Apa saja POTENSI tersebut?

    1. Potensi Batiniah

    وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَأَشۡہَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِہِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡ‌   ۖ   قَالُواْ بَلَىٰ‌  ۛ شَهِدۡنَآ‌  ۛ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ إِنَّا ڪُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
    Kata Wa idz adalah sesuatu yang pernah terjadi. Peristiwa di atas pernah terjadi kepada seluruh manusia di alam ruh, yaitu wkt itu kita di ambil kesaksian berupa keimanan Lastu birobbikum " Apakah aku ini Tuhanmu?

    Kita menjawab :
    Qoluu bala syahidna
    Benar aku bersaksi ( berikrar/bersyahadat ).Ternyata kita sudah bersyahadat sejak di alam itu
    Ingat, pada waktu itu kita merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

    Nah..Seharusnya kita hidup di dunia ini harus lebih bahagia, menang, kuat, dan hebat..Kenapa bisa begitu? Karena di dunia kita memiliki dua Syahadat/ikrar yaitu :
    Syahadat kepada Allah dan Syahadat kepada Rasulullah..
    Terus pertanyaannya, mengapa kita harus sedih, takut, pesimis, kalah, tidak mau menang, tidak mau sukses padahal kita punya 2 senjata ampuh yaitu
    Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul
    Itulah yg menyebabkan mengapa generasi sahabat Rasul, tabiin, tabiin tabiin, salafus saleh memiliki kesuksesan...

    2. Anugrah Allah berupa Ruh, ruh adalah unsur langit yang memiliki potensi kebaikan. Salah satu potensi itu adalah ketundukan kepada Allah. Barang siapa yang tunduk hanya kepada Allah maka musuh Allah pun takut kepadanya

    فَإِذَا سَوَّيۡتُهُ  ۥ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُواْ لَهُ  ۥ سَـٰجِدِينَ

    Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

    3. Potensi Akal dan Hati Nurani.

    قُلۡ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُمۡ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ‌   ۖ   قَلِيلاً مَّا تَشۡكُرُونَ

    Katakanlah: "Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

    Potensi tersebut adalah potensi untuk merenungkan, memahami,menghayati ayat   ayat Allah, baik Al-Qur'an maupun Kauniah. Potensi tersebut juga bisa digunakan untuk membedakan antara haq dan bathil, pemahaman tentang ilmu sehingga tidak tersesat. Sehingga mengantarkannya ke dalam petunjuk Allah menjadi manusia yang mampu beribadah dengan baik, menjaga, memimpin, memelihara, dan merawat buni ini dari kerusakan...karena fungsinya sebagai KHALIFAH FIL ARD


    Bersambung..
    #Berteman
    Team Red@ksi Pejuang Subuh Bekasi

    TOKOH TABI’IN: RAJA’ BIN HAIWAH

    Tiga ulama di masa tabi’in yang tidak ada bandingannya dan tidak ada yang menyamainya. Seakan mereka bertemu dan bersepakat untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Berjanji setia untuk selalu berada di atas kebaikan dan kebajikan, meniti hidupnya di atas takwa dan ilmu, bertekad bulat untuk berkhidmat kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga kaum muslimin. Mereka itu adalahMuhammad bin Sirin dari Irak, al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr dari Hijaz dan Raja’ bin Haiwah dari Syam.

    MARILAH KITA TELUSURI PERJALANAN SAAT-SAAT PENUH BERKAH DALAM SEJARAH ORANG YANG KETIGA INI, YAKNI RAJA’ BIN HAIWAH.

    Raja’ bin Haiwah lahir di Bisaan Palestina, kira-kira di akhir masa khilafah Utsman bin Affanradhiyallahu a’nhu. Asal-usulnya dari kabilah Kindah Arab. Sehingga Raja’ adalah orang palestina dari keturunan Arab dan keluarga Bani Kindah. Beliau tumbuh dalam ketaatan kepada Allah sejak kecil, dicintai Allah dan menyenangkan hati hamba-hamba-Nya.
    Beliau gemar mencari ilmu sejak awal pertumbuhannya, dan ilmu pun serasa cocok bersemayam di hatinya yang subur dan mengisi celah-celahnya yang masih kosong. Semangatnya yang paling besar adalah ketika mempelajari dan mendalami Kitabullah, serta membekali diri dengan hadis-hadis Nabi. Pikirannya diterangi oleh cahaya Alquran, pandangannya disinari oleh hidayah nubuwah, dan dadanya penuh dengan nasihat dan hikmah. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh berarti telah diberi karunia yang banyak.
    Beruntung beliau mendapat kesempatan untuk menimba ilmu dari para sahabat seperti Abu Sa’id al-Khudri, Abu Darda, Abu Umamah, Ubadah bin Shamit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abdullah bin Amru bin Ash, Nawwas bin Sam’an dan lain-lain. Mereka semua menjadi lentera hidayah dan cahaya pengetahuan bagi beliau.
    Pemuda ini menetapkan kedisiplinan atas dirinya sendiri. Motto yang dipelihara dan diulang-ulang sepanjang hayatnya adalah:
    Betapa indahnya Islam bila berhiaskan iman
    Betapa indahnya iman bila berhiaskan takwa
    Betapa indahnya takwa bila berhiaskan ilmu
    Betapa indahnya ilmu bila berhiaskan amal
    Betapa indahnya amal bila berhiaskan kasih sayang
    Raja’ bin Haiwah menjadi menteri dalam beberapa periode khalifah Bani Umayah. Dimulai sejak khalifah Abdul Malik bin Marwan hingga masa Umar bin Abdul Aziz. Hanya saja, hubungannya dengan Sulaiman bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz lebih istimewa daripada khalifah-khalifah yang lain.
    Beliau mendapat tempat di hati khalifah-khalifah Bani Umayah ini karena kecerdasan akalnya, kebagusan bahasanya, ketulusan niatnya, serta kebijakannya dalam menyelesaikan suatu masalah. Di samping itu, juga karena kezuhudannya terhadap kemewahan dunia yang ada di tangan para penguasa itu, yang biasanya diperebutkan oleh orang-orang yang tamak.
    Kedekatan hubungannya dengan khalifah-khalifah Bani Umayah merupakan perwujudan rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi mereka, karena beliau senantiasa mendorong mereka kepada kebaikan dan menunjukkan jalannya, menjauhkan dari kejahatan dan menutup pintunya, menunjukkan indahnya kebenaran hingga mereka mau mengikuti, dan menggambarkan betapa buruknya kebathilan hingga mereka menjauhi. Beliau menunaikan nasihat bagi Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin.
    Telah terjadi peristiwa yang dialami Raja’ bin Haiwah sehingga mampu menerangi jalan agar beliau menempuh jalan yang benar dalam bergaul dengan khalifah dan bagaimana dia membatasi diri dalam tugasnya. Beliau menceritakan perihal dirinya sebagai berikut:
    “Ketika itu, aku berdiri bersama khalifah Sulaiman bin Abdul Malik di tengah ramainya manusia. Tiba-tiba aku lihat seseorang keluar dari kerumunan massa dan berjalan mendekati kami. Wajahnya tampan dan penuh wibawa, menerobos kerumunan orang sehingga aku merasa pasti dia hendak menghampiri khalifah. Tetapi ternyata dia berdiri di sampingku, memberi salam lalu berkata:
    “Wahai Raja’, engkau telah diuji melalui orang ini [sambil menunjuk khalifah]. Kedekatanmu denganya bisa mendatangkan kebaikan yang banyak, namun bisa pula menimbulkan keburukan yang banyak. Maka jadikanlah kedekatanmu dengannya sebagai sarana untuk mendapatkan kebaikan bagi dirimu dan orang lain. Ketahuilah wahai Raja’, bila seseorang memiliki kedudukan di sisi pengauasa kemudian dia mengurus kebutuhan orang-orang lemah yang tak kuasa mengajukannya kepada penguasa, maka dia akan menjumpai Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat nanti dengan kedua kaki yang mantap untuk dihisab.
    Ketahuilah wahai Raja’, barangsiapa yang mencukupi kebutuhan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Ketahuilah pula wahai Raja’, bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah menyenangkan hati seorang muslim.”
    Raja’ berkata, “Ketika aku sedang asyik memperhatikan dengan seksama kata-kata orang itu dan menunggu kelanjutannya, namun tiba-tiba khalifah memanggil: “Wahai Raja’ bin Haiwah!” Aku bergegas menuju ke tempat khalifah seraya menjawab, “Aku di sisimu wahai Amirul Mukminin.”
    Khalifah menanyakan sesuatu dan aku menjawab. Setelah itu aku segera menengok ke arah orang yang menasihatiku tadi, namun ia sudah tak lagi berada di tempatnya. Aku mencarinya di antara kerumunan orang ramai, namun aku tak mendapatkannya.”
    Raja’ bin Haiwah banyak membimbing ke arah sikap jujur khalifah-khalifah Bani Umayah hingga tertulis dalam lembaran sejarah yang paling indah, diriwayatkan dari generasi ke generasi sebagai tokoh salaf.
    Sebagai contohnya, peristiwa di mana suatu hari ada orang yang mengadu kepada khalifah Abdul Malik bin Marwan tentang adanya seseorang yang membenci Bani Umayyah dan berpihak kepada Abdullah bin Zubair. Si pelapor menceritakan tentang perkataan dan perbuatan orang yang dimaksud, hingga memancing amarah khalifah dan mengancam: “Demi Allah, jika Allah memberiku kesempatan untuk menangkapnya, sungguh aku akan melakukannya, aku akan melakukannya, akan aku kalungkan pedang di lehernya!”
    Tak berselang lama setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan khalifah dapat menangkap orang yang diadukan tersebut. Dia digiring menghadap khalifah dengan cara yang kasar. Ketika melihat orang itu, khalifah naik pitam dan hampir melaksanakan ancamannya, namun Raja’ bin Haiwah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi Anda kesempatan untuk melaksanakan keinginan Anda dengan kekuatan yang Anda miliki, maka sekarang lakukanlah untuk Allah apa yang disukai-Nya, yaitu ampunan.”
    Seketika itu juga amarah Amirul Mukminin menjadi reda dan menjadi tenanglah hatinya. Kemudian dia memaafkan orang tersebut, melepaskannya dan memperlakukannya secara baik.
    Pada tahun 91 H, Khalifah al-Walid bin Abdul Malik menunaikan haji didampingi oleh Raja’ bin Haiwah. Sesampainya di Madinah, khalifah mengunjungi masjid Nabawi asy-Syarif disertai Umar bin Abdul Aziz. Beliau ingin melihat-lihat masjid Nabawi itu karena telah memiliki tekad untuk memperluasnya menjadi 200 hasta. Orang-orang yang berada di dalamnya diminta keluar dari masjid agar Amirul mukminin dapat memperkirannya.
    Tidak tersisa lagi orang yang di dalamnya kecuali Sa’id bin Musayyab, karena petugas tidak berani menyuruhnya keluar. Melihat hal itu, Umar bin Abdul Aziz, sebagai wali kota mengutus seseorang untuk mengatakan kepada Sa’id agar keluar seperti yang lain. Tetapi Sa’id menjawab, “Saya tidak akan meninggalkan masjid kecuali pada waktu-waktu yang biasa saya tinggalkan setiap hari.” Lalu dikatakan, “Kalau begitu hendaknya Anda berdiri sekedar memberi hormat dan salam kepada Amirul Mukminin..” Beliau menjawab, “Saya datang kemari untuk berdiri bagi Rabb-ul Alamin.”
    Demi melihat polemik yang terjadi antara utusannya dengan Imam Sa’id bin Musayyab, Umar bin Abdul Aziz segera mengarahkan Amirul Mukminin menjauh dari tempat Sa’id duduk. Sementara Raja’ mengalihkan perhatiannya dengan mengajak berbincang-bincang, sebab Umar dan Raja’ tahu akan kekerasan sikap khalifah. Mendadak al-Walid bertanya, “Siapakah orang tua tersebut? Bukankah dia Sa’id bin Musayyab?”
    Keduanya berkata, “Benar wahai Amirul Mukminin,” lalu keduanya segera menyebut-nyebut tentang kebaikan agama dan ilmunya serta keutamaan dan ketakwaannya. Keduanya berkata, “Seandainya beliau mengetahui posisi Anda, tentulah akan datang dan memberi salam, hanya saja beliau sudah lemah penglihatannya.” Al-Walid berkata, “Aku baru mengetahui bahwa keadaannya seperti yang kalian sebutkan. Dia lebih berhak untuk kita datangi dan kita dahului mengucapkan salam.”
    Khalifah al-Walid mengelilingi masjid hingga sampai di tempat duduk Sa’id bin Musayyab, beliau berhenti memberi salam dan bertanya: “Bagaimana keadaan Anda, wahai syaikh?” Sa’id menjawab tanpa beranjak dari tempatnya, “Dalam limpahan nikmat-Nya, segala puji bagi Allah, bagaimana keadaan Amirul Mukminin? Semoga mendapat taufik untuk mengerjakan apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah.”
    Sambil berlalu al-Walid berkata, “Beliau adalah sisa-sisa orang terdahulu, sisa pendahulu umat ini.”
    Ketika tampuk kekhalifahan jatuh ke tangan Sulaiman bin Abdul Malik, Raja’ bin Haiwah mendapat kepercayaan penuh di sisinya melebihi yang lain. Sulaiman sangat mempercayainya, menggunakan pemikiran dan pandangan-pandangannya dalam segala urusan yang besar maupun yang kecil.
    Begitu banyak peristiwa mengesankan yang beliau alami bersama Sulaiman bin Abdul Malik. Namun ada satu peristiwa monumental bagi sejarah Islam dan kaum muslimin, karena masalahnya yang sangat urgen. Yakni soal pengganti khalifah, di mana Raja’ cenderung untuk memilih Umar bin Abdul Aziz.
    Raja’ bin Haiwah menceritakan peristiwa bersejarah tersebut:
    Di awal hari Jumat di bulan Safar tahun 99 H, aku mendampingi Amirul Mukminin Sulaiman di Dabik. Saat itu Amirul Mukminin telah mengirimkan suatu pasukan yang kuat untuk menggempur Turki di bawah komandan saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, dan didampingi putra beliau Dawud, beserta sebagian besar dari keluarganya. Beliau telah bertekad untuk tidak meninggalkan Dabik sebelum menguasai Konstantinopel atau mati.
    Ketika waktu telah mendekati shalat Jumat, Amirul Mukminin berwudhu dengan sebagus-bagus wudhu, memakai jubah berwarna hijau dan surbannya berwarna hijau pula. Beliau merasa bangga melihat keadaannya di cermin yang terlihat masih muda, di mana saat itu usia khalifah baru sekitar 40 tahun. Kemudian beliau keluar untuk menunaikan shalat Jumat bersama orang-orang. Sepulangnya dari shalat Jumat, tiba-tiba beliau merasa demam. Rasa sakit tersebut kian hari bertambah parah. Sehingga beliau meminta agar aku (Raja’) senantiasa dekat di samping beliau.
    Suatu kali, ketika aku masuk ke ruangan khalifah, aku dapati Amirul Mukminin sedang menulis sesuatu. Aku bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab, “Aku menulis wasiat untuk penggantiku yakni putraku Ayyub.”
    Aku berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ketahuilah bahwa yang akan menyelamatkan Anda dari tanggung jawab kelak di hadapan Allah adalah dengan menunjuk seorang pengganti yang shalih untuk umat ini. Sedangkan putra Anda itu masih terlampau kecil, belum dewasa, belum dapat dijamin kebaikan dan keburukannya.” Beliau berkata, “Ini hanya tulisan main-main saja. Untuk itu, aku hendak shalat istikharah dahulu.” Kemudian beliau merobek tulisan tersebut.
    Setelah satu atau dua hari kemudian aku dipanggil dan ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang putraku, Dawud wahai Abu Miqdam?” Aku berkata, “Dia tidak ada di sini. Dia sedang berada di medan perang di Konstantinopel bersama kaum muslimin dan Anda sendiri tidak mengetahui apakah dia masih hidup atau sudah gugur.” Beliau berkata, “Menurutmu, siapakah gerangan yang pantas menggantikan aku wahai Raja’?”
    Aku berkata, “Keputusannya terserah Anda wahai Amirul Mukminin..” Aku ingin melihat siapa saja yang beliau sebut, sehingga aku bisa mengomentarinya satu persatu, lalu sampailah nama Umar bin Abdul Aziz yang sebenarnya aku maksud.” Beliau berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang Umar bin Abdul Aziz?”
    Aku berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang beliau melainkan bahwa dia adalah orang yang utama, sempurna, cerdas, bagus agamanya, dan berwibawa.” Beliau berkata, “Engkau benar, demi Allah, dialah yang layak untuk jabatan ini. Hanya saja jika dia yang aku angkat sementara aku tinggalkan anak-anak Abdul Malik, tentu akan terjadi fitnah.” Aku berkata, “Kalau begitu, pilihlah salah satu dari mereka dan tetapkan baginya sebagai pengganti setelah Umar.”
    Beliau berkata, “Anda benar, hal itu bisa membuat mereka tenang dan ridha.” Kemudian Amirul Mukminin mengambil kertas dan beliau tulis:
    Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah surat dari hamba Allah, Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik untuk Umar bin Abdul Aziz. Aku mengangkatmu sebagai khalifah penggantiku, dan setelah kamu adalah Yazid bin Abdul Malik, maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah dia, janganlah kalian bercerai-berai karena akan mengakibatkan senangnya orang-orang yang menginginkan hal itu terjadi atas kalian.”
    Kemudian beliau menutup surat itu dan menyerahkannya kepadaku, selanjutnya dikirim kepada Ka’ab bin Hamiz selaku kepala keamanan. Lalu khalifah berkata, “Perintahkanlah seluruh keluargaku untuk berkumpul dan sampaikan bahwa surat wasiat yang berada di tangan Raja’ bin Haiwah adalah benar-benar pernyataanku. Lalu perintahkan mereka untuk membaiat kepada orang yang disebutkan namanya dalam wasiat itu.”
    Setelah semuanya berkumpul, aku berkata, “Ini adalah surat wasiat Amirul Mukminin yang berisi perintah pengangkatan khalifah penggantinya dan beliau telah memerintahkan aku untuk mengambil baiat kalian bagi orang yang tercantum sebagai calon penggantinya.” Mereka berkata, “Kami mendengar, dan akan taat kepada Amirul Mukminin penggantinya.” Setelah itu mereka minta izin menemui Amirul Mukminin untuk mengucapkan salam. Aku berkata, “Silakan.”
    Setelah mereka masuk, Sulaiman berkata, “Sesungguhnya surat yang berada di tangan Raja’ berisi pesan bagi khalifah penggantiku maka taatilah dia dan baiatlah kepada orang yang kusebutkan namanya di dalamnya.” Satu demi satu orang-orang membaiat. Kemudian aku keluar dengan membawa surat yang tertutup rapi dan tak ada seorangpun yang tahu selain aku dan Amirul Mukminin.
    Setelah orang-orang membubarkan diri, Umar bin Abdul Aziz mendekatiku dan berkata, “Wahai Abu Miqdam, selama ini Amirul Mukminin begitu baik kepadaku dan telah memberiku kekuasaan karena kebijaksanaan dan ketulusannya dalam masalah ini. Oleh sebab itu, aku bertanya karena Allah, atas nama persahabatan dan kesetiakawanan kita, beritahukanlah kepadaku nama tersebut, sedandainya dalam wasiat Amirul Mukminin tersebut ada sesuatu yang ditujukan khusus kepadaku, agar aku bisa menolaknya sebelum terlambat.”
    Aku berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan memberitahukan walau satu huruf pun dari isi surat itu tentang apa yang kau inginkan.” Umar bin Abdul Aziz pun pergi dengan kecewa.
    Setelah itu giliran Hisyam bin Abdul Malik mendekatiku dan berkata, “Wahai Abu Miqdam, di antara kita telah terjalin persahabatan yang begitu lama. Aku mengucapkan banyak terima kasih untuk itu dan tak akan pernah melupakan jasa-jasamu. Maka tolonglah beritahukan kepadaku isi surat Amirul Mukminin itu. Jika jabatan tersebut diserahkan kepadaku, aku akan tutup mulut, tetapi jika diberikan kepada yang lainnya, akau akan bicara. Orang seperti saya tidak selayaknya dikesampingkan dalam urusan ini. Aku bersumpah tidak akan membocorkan rahasia ini.’
    Aku berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan memberitahukan kepadamu satu huruf pun dari isi surat yang dipercayakan Amirul Mukminin kepadaku.” Dia pergi dengan mengepalkan tangannya seraya menggerutu, “Kepada siapa lagi dia menyerahkan jabatan jika aku disingkirkan? Mungkinkah khilafah ini akan lepas dari tangan anak-anak Abdul Malik? Demi Allah, akulah yang paling utama di antara anak-anaka Abdul Malik!”
    Kemudian aku masuk untuk menjumpai Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik. Aku perhatikan beliau semakin bertambah parah dan mendekati sakaratul maut. Melihat kegelisahannya, aku menghadapkan beliau ke arah kiblat sementara beliau berkata dengan berat: “Belum tiba saatnya wahai Raja’.” Aku mengulanginya lagi, dan ketika kupalingkan ke kiblat untuk ketiga kalinya beliau berkata, “Sekarang jika engkau hendak melakukan sesuatu, lakukanlah wahai Raja’. Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” Kupalingkan beliau ke arah kiblat dan tak lama kemudian beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.
    Aku pejamkan kedua matanya, aku tutup tubuhnya dengan kain, lalu kututup pintu ruangan itu rapat-rapat. Pada saat utusan istri khalifah, ingin menengoknya aku menghalangi pintu masuk sambil berkata, “Lihatlah dia baru bisa tidur setelah gelisah semalam suntuk. Karena itu biarkanlah dulu dia dengan ketenangannya.”
    Syukurlah, ketika utusan istri Sulaiman bin Abdul Malik menyampaikan alasanku diterima dengan baik oleh istri khalifah. Dia yakin kalau suaminya memang sedang tidur. Aku mengunci pintu dan menempatkan seorang penjaga yang kupercaya sambil berpesan kepadanya, “Jangan ijinkan seorang pun masuk hingga aku kembali nanti.”
    Kemudian aku pergi untuk menemui orang-orang. Ketika itu mereka bertanya, “Bagaimana keadaan Amirul Mukminin?” Aku menjawab, “Belum pernah beliau setenang ini semenjak sakitnya.” Alhamdulillah, kata mereka.
    Setelah itu aku meminta agar Ka’ab bin Hamiz mengumpulkan semua keluarga khalifah di masjid Dabik. Setelah semuanya hadir aku berkata, “Berbaiatlah kalian kepada orang yang tercantum namanya dalam surat ini.” Mereka berkata, “Kami sudah berbaiat kemarin, mengapa harus berbaiat lagi?” Aku berkata, “Ini adalah perintah Amirul Mukminin. Kalian harus menaati perintahnya untuk membaiat orang yang tersebut namanya dalam surat ini.”
    Satu persatu mereka pun berbaiat. Setelah kulihat segalanya berjalan dengan lancar, baru aku katakan, “Sesungguhnya Amirul Mukminin telah wafat, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
    Aku membaca surat wasiat Amirul Mukminin dan membacanya, ketika kusebutkan nama Umar bin Abdul Aziz, spontan Hisyam bin Abdul Malik berteriak: “Aku tidak akan membaiat dia selamanya!” Aku berkata, “Kalau begitu –demi Allah- aku akan memenggal lehermu, bersegeralah engkau baiat dia.” Akhirnya sambil menyeret kedua kakinya dia berjalan menuju Umar bin Abdul Aziz, lalu berkata, “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.” (yakni dia sesalkan mengapa khilafah jatuh ke tangan Umar dan bukan ke tangan salah satu putra Abdul Malik). Umar pun menjawab, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ( yakni beliau menyesali mengapa beliau harus mengemban tugas khalifah).
    Itulah baiat yang dengannya Allah memperbarui keislaman dan meninggikan panji-panjinya.
    Sungguh beruntung khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dan selamatlah jalannya. Dengan pengangkatannya atas Umar bin Abdul Aziz berarti beliau telah menyelamatkan diri dari tanggung jawab di hadapan Allah. Selamatlah menteri yang tulus Raja’ bin Haiwah yang telah merealisasikan nasihat bagi Allah, Rasul-Nya, dan imam-imam kaum muslimin. Semoga Allah membalas teman akrab yang shalih dengan balasan yang baik dan menggantinya dengan pahala. Dengan kecerdasannya mampu menunjukkan jalan terbaik bagi para penguasa.
    Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

    RESUME KAJIAN ONLINE :KETIKA CINTA BELABUH

    Bersama Ustd. Agung Nursidik

    CINTA ?. Iya cinta, satu kata yang tak pernah habis dibicarakan oleh semua orang. CINTA bukan hanya sebuah kata, tetapi sebuah cita dan rasa yang fenomenal dan mencakup segala aspek kehidupan. Seribu satu kisah tentang CINTA telah ada di dunia ini, seperti cerita dramatis Romeo dan Juliet. Sang Pujangga pun berkata hidup tanpa CINTA bagai taman tak BERBUNGA. Bahkan kisah kehidupan kita sejak lahir selalu di warnai dengan cerita CINTA.
    Lalu apakah CINTA itu ?. Adakah CINTA yang hakiki itu…? Lalu kemanakah CINTA kita sesungguhnya harus di LABUHKAN ?. Apakah selama ini ada yang salah dalam kita MELABUHKAN CINTA ?
    Tahukah sahabat, bahwa CINTA bukan hanya ucapan. Tetapi CINTA butuh pembuktian yang mengantarkan kepada kekuatan. Tahukan sahabat bahwa dengan mengetahui tingkatan CINTA akan mengantarkan   kepada derajat kemuliaan yang tinggi sebagai manusia. Tahukah sahabat bahwa konsekuensi CINTA akan mengantarkan kepada kebahagiaan dan kemenangan. Sebagaimana telah dibuktikan oleh para pendahulu kita, atas kekuatan, kemuliaan dan kemenangan yang mereka peroleh.

    Sebagai seorang muslim, kepada siapakah kita harus melabuhkan CINTA?.  Maka tentunya kita semua akan menjawab kepada Allah swt kita melabuhkan CINTA kita. Itulah yang di sebut dengan MAHABATULLAH ( Cinta Kepada Allah swt ). Kemudian ketika kita mengaku CINTA kepada Allah, apakah cukup dengan mengatakan saya CINTA kepada Allah swt. Tentunya ketika kita mengaku CINTA Kepada ALLAH itu butuh pembuktiannya.
    7 BUKTI CINTA KEPADA ALLAH

    1. Kasrotudzikro...
    Yaitu : Banyak menyebut Nama Allah swt.


    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُ‌وا اللَّـهَ كَثِيرً‌ا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٤٥

    “ Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” ( QS. Al-Anfal : 45 )


    2. Al i'jaab
    Yaitu KAGUM : Karena keindahan, kekuasaan dan sisi sisi kesempurnaan Allah swt, maka kita mengaguminya

    3. Ar Ridho
    Yaitu rela : Cinta seseorang kepada Allah swt akan menyebab rela melakukan apa saja yang di perintahkan dan menjauhi dengan rela apa yg di larangNya

    4. At tadhiyyah
    Berkorban : bagi orang yang Cinta puncak kebahagiannya adalah apabila ia berkorban demi Cintanya.  Semakin besar Cintanya maka semakin besar pula pengorbanannya

    5. Al Khauf
    Cemas : dalam waktu yg sama ia cemas bila cinta tidak terbalas, perasaan ini akan mendorongknya untuk selalu berusaha maksimal mencari ridho kekasihnya

    6. Arroja'
    Berharap : ia tidak pernah berputus asa andai apa yang ia harapkan dari kekasihnya belum juga dapat, sebab memang tidak ada harapan lain baginya

    7. Aththoah
    Taat : karena selalu banyak mengingat, kagum, ridho, rela, cemas dan berharap maka ia selalu mentaati semua perintahnya...

    Nah sahabat sekalian saya akan bertanya kepada kalian, wahai yang selama ini mengaku CINTA kepada Allah dan RasulNya, apakah bukti – bukti di atas sudah terpenuhi???
    Jika tidak, berarti ibarat kata CINTA kita selama ini adalah CINTA PALSU. Jika kita sudah bisa memberikan dan membuktikan CINTA kita kepada Allah, maka kekuatan CINTA dari Allah pun akan kita dapatkan, sebagaimana para sahanat, salafus saleh yg telah menggapai kemuatan CINTA itu...

    Sahabatku sekalian ternyata bukti CINTA saja tidak cukup. Ternyata tahap selanjutnya setelah kita tau bahwa CINTA itu butuh pembuktian, ternyata CINTA juga ada konsekwensinya.
    Sahabat..setidaknya ada 4 konsekwensi CINTA kita kepada Allah...

    1. Mencintai siapa yang di CINTAI sang kekasih...
    Mencintai siapa saja yg diCINTAI kekasih merupakan bagian tak terpisahkan dari CINTA kepada kekasihnya itu...

    2. Mencintai apa saja yang diCINTAI kekasih
    Mencintai apa saja yg di CINTAI kekasihnya juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari CINTANYA kepada kekasihnya itu

    3. Membenci siapa saja yang di benci sang kekasih
    Sebagaimana CINTA, kebencian kekasih juga ditujukan kepada pihak yg di benci kelasihnya. Apapun yang dibenci oleh kekasihnya maka ia pun akan membencinya demi membuktikan CINTAnya

    4. Membenci apa saja yang di benci kekasihnya
    Dalam konteks CINTA kepada Allah swt, seorang mukmin harus membenci apa saja yg di benci Allah berupa kemungkaran, kemunafikan, dusta, kebodohan, kezaliman, dll
    Itulah sahabat sekalian, konskwensi CINTA yang memang harus di lakukan oleh siapapun yang mengaku CINTA kepada Allah. Sudahkan selama ini kita memberikan konsekwensi CINTA tersebut kepadaNya?,  karena dengan konsekwensi tersebut akan mendapatkan kemenangan...

    Nyatanya bukti CINTA dan konsekwensi CINTA saja belum cukup, untuk menyempurnakan bukti dan konsekwensi CINTA kita juga harus tau tingkatan Cinta yaitu :
    1. Kecenderungan : hubungan terendah Cinta adalah hubungan biasa - biasa saja. Cinta tingkatan ini diberikan kepada yang berupa materi sebagai fasilitas di dunia. Seperti CINTAnya kita kepada harta, benda, pangkat, jabatan dan segala fasilitas yang hanya berupa fasilitas dunia saja.

    2. Simpati :dengan tingkatan ini ia dakwai sesama manusia agar mereka selamat dunia dan akhirat.

    3. Empati : di berikan kepada manusia yang muslim, karena ada hubungan persaudaraan

    4. Rindu : di berikan kepada manusia yg muslim lagi mukmin. Kepada merekalah kedekatan cinta dan kasih sayang.

    5. Mesra : Cinta kepada Rasul tidak sampai pada tingkat penghambaan. Cinta kepada Rasul di buktikan dengan kemesraan dalam meneladaninya

    6. Penghambaan : Inilah CINTA tertinggi yang di berikan kepada Allah dengan bentuk penghambaan kepadaNya

    Semoga Bermanfaat
    Team Red@ksi Pejuang Subuh Bekasi

    KETIKA CINTA BERLABUH



    CINTA ?. Iya cinta, satu kata yang tak pernah habis dibicarakan oleh semua orang. CINTA bukan hanya sebuah kata, tetapi sebuah cita dan rasa yang fenomenal dan mencakup segala aspek kehidupan. Seribu satu kisah tentang CINTA telah ada di dunia ini, seperti cerita dramatis Romeo dan Juliet. Sang Pujangga pun berkata hidup tanpa CINTA bagai taman tak BERBUNGA. Bahkan kisah kehidupan kita sejak lahir selalu di warnai dengan cerita CINTA.
    Lalu apakah CINTA itu ?. Adakah CINTA yang hakiki itu…? Lalu kemanakah CINTA kita sesungguhnya harus di LABUHKAN ?. Apakah selama ini ada yang salah dalam kita MELABUHKAN CINTA ?

    Tahukah sahabat, bahwa CINTA bukan hanya ucapan. Tetapi CINTA butuh pembuktian yang mengantarkan kepada kekuatan. Tahukan sahabat bahwa dengan mengetahui tingkatan CINTA akan mengantarkan   kepada derajat kemuliaan yang tinggi sebagai manusia. Tahukah sahabat bahwa konsekuensi CINTA akan mengantarkan kepada kebahagiaan dan kemenangan. Sebagaimana telah dibuktikan oleh para pendahulu kita, atas kekuatan, kemuliaan dan kemenangan yang mereka peroleh.

    PENASARAN ?. Simak dan ikuti dalam Kajian Online Pejuang Subuh Bekasi bersama Ustd. Agung Nursidik, S.Pd, CH, CHt, C.NLP dengan tema “ KETIKA CINTA BERLABUH “

    Hari Kamis, 14 April 2016 pukul 20.00 – 21.30 di #KOPS Bekasi. Pastikan kalian bergabung pada agenda tersebut menjadi saksi betapa dahsyatnya CINTA yang akan membuat hidup kita lebih bermakna dengan memiliki KEKUATAN, KEMULIAAN dan KEMENANGAN yang hakiki.

    IKUTAN YUK, Cara mendaftar :
    Ketik KCB#Nama#Asal Kota/Kab/#Nomor Telepon


     
    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. Pejuang Subuh|Kota Bekasi - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by PS. Bekasi