Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.
    Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

    Perjalanan DAKWAH Ini Seperti mendaki GUNUNG

    Oleh : Agung Nursidik, S.Pd, CNLP
    Perjalanan DAKWAH ini begitu jauh bahkan lebih jauh dari jarak yang kita kira. Perjalanan DAKWAH ini sangat panjang, bahkan lebih panjang dari usia kita. Perjalanan DAKWAH ini sangat sulit, penuh onak dan duri.




    Sahabat " Pejuang Subuh " kendaraanmu adalah bagian dari mata rantai DAKWAH ini. Persiapkan dirimu dalam menghadapi perjalanan ini. Bekal saja tidak cukup, semangat saja tidak cukup, pengorbanan saja tidak cukup, kesungguhan saja tidak cukup.


    Lalu apa?, kebersamaan Allah dan Rasul-Nya yang menjadi Suplemen kekuatan. Karena dengan-Nya akan di tunjukan jalan - jalan kemudahan dan keridoan-Nya.

    "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." ( Al-Ankabut : 69 )

    Kebersamaan DAKWAH ini akan menyeleksi para PEJUANG - PEJUANG yang sesungguhnya.

    Saat awal mendaki GUNUNG masih begitu kuat tekad itu.

    1. Hingga sampai di kaki gunung ada beberapa yang jatuh terpeleset, hingga mereka katakan " aduh...aku jatuh terpeleset, kakiku berdarah, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan ini ". Yang lain pun berkata " Ayolah sahabat jangan mudah goyah, ayo kita lanjutkan perjalanan ini, perjalanan kita masih jauuh.." Mereka yang terpeleset berkata " Aku sepertinya sdh tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan ini, biarlah aku kembali pulang, kalian lanjutkan saja perjalanan kalian"
    2. Saat sampai di pertengahan ada sebagian yang terperosok. "Aduh...aku jatuh terperosok, kakiku terluka parah dan berdarah" Hingga sahabat yang lain berkata "Ayo sahabatku, sedikit lagi kita akan sampai, jangan sia -siakan perjalan kita, ada sesuatu yang indah di atas sana yang akan kita temui". Yang jatuh terperosok menjawab "aduh...kakiku perih..., labam dan darah terus mengalir, biarkanlah aku menunggu di sini, kalian lanjutkan saja perjalanan kalian."
    3. Yang tersisa dari perjalanan ini adalah orang - orang pilihan Allah, karena mereka berjalan karena yakin di sana ada janji Allah yang indah dan yang mereka akan temukan...

    Itulah sahabat PS Bekasi. Maka menjadi kelompok yang manakah kita dalam perjalanan ini?. Mereka yang selalu berusaha melanjutkan perjalanan adalah orang yang memiliki punggung yang kuat. Karena Allah akan memberikan amanah dakwah ini pada mereka yg memiliki punggung yang kuat.


    Janganlah kita menjadi tiga tipe kader dalam DAKWAH ini,

    1. Kader yang meninggalkan DAKWAH, ia adalah yang pelan - pelan, sedikit demi sedikit menjauh dan meninggalkan DAKWAH
    2. Kader DAKWAH yang tertinggal, ia adalah kader yang terseok - seok dalam mengikuti DAKWAH ini
    3. Kader yang ditinggal oleh DAKWAH ini, ia adalah yang duduk - duduk santai dan hanya menunggu, maka lambat laun akan di tinggal oleh DAKWAH.

    Ingatlah bahwa kitalah yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kita. Dakwah akan terus berjalan tanpa ataupun adanya kita.

    Untukmu PS Bekasi
    Allahu Akbar 3 X

    Alhamdulillah, Artis Dhini Aminarti Mantap Berhijab

    Liputan 6
    Menutup aurat dengan cara berhijab adalah kewajiban setiap muslimah. Kesadaran itu pula yang muncul dari seorang pemain sinetron Dini Aminarti.
    Pengumuman tentang mulai hijabnya pesinetron yang memiliki rambut indah bak bintang iklan sampo itu disampaikan oleh sahabatnya yang juga artis, Oki Setiana Dewi.
    “Alhamdulillah, kak Dhini Aminarti hari ini telah berhijab. Doakan sahabat sholihah semua. Agar beliau istiqomah mengenakannya,” tulis pemain Ketika Cinta Bertasbih itu melalui laman media sosialnya, Jumat (22/1).
    Yang pada belum berhijab, lanjut, yuuk hijrah yuk. Berpakaian rapi & santun, insya Allah cantik di mata Allah cantik juga di mata manusia.
    “Rabbana la tuzigh qulubana ba’da izhadaitana wahablana min ladunka rahmah, innaka anta Al-Wahhab.. “Ya Tuhan kami, jangan KAU palingkan hati ini kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kpd kami, dan kurniakanlah kepada kami rahmat disisi Mu kerana sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Kurnia,” doa Oki.
    Tak lama, Sabtu (23/1), Dhini Aminarti pun memastikan kabar tentang dirinya berhijab.
    “Bismillah..mohon do’anya ya, semoga aku bisa istiqomah,” kata istri artis Dimas Seto yang juga lulusan komunikasi Universitas Paramadina itu, sembari mengunggah fotonya menggunakan hijab.
    Aamiin, semoga istiqomah berhijab Dhini!

    Ketundukan Yang Membawa Kepada Kehinaan Sejarah Penghujung Masa Kesultanan Seljuq


    Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

    Pertempuran Qatwan - 9 September 1141

    Pertempuran Qatwan adalah konflik antara Kara-Khitai Khanate dan Kesultanan Seljuq yang didukung oleh taklukannya Kara-Khaniya. Pada pertempuran ini Seljuq mengalami kekalahan yang menjadi awal dari kemundurannya.

    Latar Belakang

    Kara-Khitai adalah bangsa Mongol dari dinasti Liao yang bermigrasi dari wilayah utara China ke arah barat karena kerajaannya dihancurkan oleh invasi Jurchen pada tahun 1125. Perpindahan ini dipimpin oleh Yelü Dashi dan dalam prosesnya mereka bahkan merebut kota Balasaghun, ibukota Kara-Khaniya. Bahkan pada tahun 1137 imigran Kara-Khitai mampu mengalahkan Kara-Khaniya di Pertempuran Khujand. Pemimpin Kara-Khaniya yang bernama Mahmud II mengirim surat permohonan perlindungan dari Sultan Ahmed Sanjar dari Kesultanan Seljuq. Pada tahun 1141, Ahmed Sanjar tiba dengan pasukannya di Samarkand.

    Pertempuran

    Sumber-sumber sejarah memberikan angka kekuatan kedua seteru dengan besaran yang berbeda. Namun, patut diduga bahwa Kara-Khitai berkekuatan 20-30 ribu pasukan sedangkan Seljuq sekitar 70-100 ribu; namun Kara-Khitai mendapatkan bantuan dari Karluk sebanyak 30-50 ribu pasukan berkuda.

    Di padang rumput Qatwan di bagian utara Samarkand pertempuran itu berkecamuk. Kara-Khitai membagi balatentaranya dalam 3 bagian dan menyerang kekuatan Seljuq secara serentak hingga berhasil mengepungnya. Lini tengah Seljuq terdesak masuk ke sebuah wadi/lembah Dargham sekitar 12 km dari Samarkand. Tanpa celah untuk meloloskan diri, hampir seluruh pasukan Seljuq hancur dan Sanjar lolos dengan susah payah. Tidak diketahui bagaimana bisa terjadi, namun banyak komandan Seljuq yang tertawan dan termasuk isteri Sanjar juga yang terpisah dari kesatuan kawal di tengah kepanikan tersebut. Sepertinya tradisi membawa permaisuri ke medan laga adalah sebuah tradisi militer dari Asia Tengah.

    Kesudahan

    Yelü Dashi menghabiskan 90 hari di Samarkand untuk menyelesaikan masalah politik lokal termasuk menerima banyak janji setia dari berbagai penguasa Muslimin dan mengangkat saudaranya Mahmud, yaitu Ibrahim, sebagai Samarkand. Yalü juga menerima keluarga Burhan sebagai pemimpin wilayah Bukhara.

     
    Setelah pertempuran ini kesultanan Khwarazim menjadi wilayah taklukan (vassal) bagi Kara-Khitai dan sempat diserbu karena Sultan Atsiz telat membayarkan 30 ribu dinar upeti. Untuk keterlambatan ini wilayah Khwarazim dibumi-hanguskan oleh Erbuz utusan langsung Yelü Dashi.

    Agung Waspodo, setelah 874 tahun berlalu tetap saja mencatat hikmah tunduk kepada lawan akan menghasilkan kehinaan.

    Depok Utara, Sabtu 19 September 2015.. masih mengejar ketelatan artikel yang seharusnya dirampungkan 10 hari yang lalu, memanfatkan waktu sebelum acara ta'lim dimulai..

    Dipersembahkan:
    Majelis Iman dan Islam

    Sebarkan! Raih pahala...


    Anak Sederhana Ini Kelak Menjadi Seorang Gubernur

    Ada seorang anak SD yang tinggal bersama neneknya. Namanya Asep. Setiap berangkat sekolah, ia berjualan gorengan. Ia tidak malu berjualan gorengan untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya. Terkadang, ia berangkat ke sekolah sambil nyeker (tanpa alas kaki) karena keterbatasan (ekonomi) keluarganya. Di luar waktu sekolah, Asep mengisi waktu luangnya dengan belajar. Ia terkenal kutu buku. Sering sekali ia membaca buku dengan semangat di atas pohon, padahal di bawah dekat pohon itu ada kuburan. Saat suasana mulai gelap, barulah ia turun dari pohon tersebut. Ia juga sering mengaji Al-Qur’an di masjid.

    Selain ilmu umum di sekolah, ia pun senang belajar ilmu-ilmu agama Islam. Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, Asep bisa melanjutkan sekolah sampai SMA. Pada saat SMA, minat dan semangatnya terkait agama menyebabkan Asep aktif di rohis (kerohanian Islam). Keilmuan Asep di bidang agama pun mulai diakui oleh masyarakat. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah sering menjadi ustadz muda yang diminta berceramah dari satu kampung ke kampong lainnya.

    Suatu ketika, Asep sedang menyampaikan ceramahnya dengan bahasa yang sistematis dan jelas. Para hadirin terpesona dengan penjelasan Asep yang sederhana dan mudah dipahami. Ada seorang wanita yang matanya sembap, air mata pun mengalir. Ia bersyukur kepada Allah karena Asep diberi karunia ilmu agama dan dipercaya oleh masyarakat. Ternyata, wanita tersebut adalah ibunda Asep yang ikut hadir. Setelah SMA, Asep diterima kuliah di IPB. Namun, dengan berat hati ia tidak melanjutkan kuliah karena memprioritaskan adikadiknya yang masih sekolah dan perlu biaya yang banyak. Ia pun sempat diterima di IAIN Sunan Gunung Djati (sekarang UIN Sunang Gunung Djati). Dengan keterbatasan ekonomi keluarganya, Asep berusaha mencari beasiswa.

    Alhamdulillah, pada saat itu ada pengumuman penerimaan mahasiswa baru Universitas Muhammad Ibnu Sa‘ud Saudi Arabia cabang Asia Tenggara. Asep mendaftar dan lulus dengan beasiswa penuh untuk belajar bahasa Arab dan ilmu syariah di universitas tersebut. Asep belajar dengan tekun sehingga berhasil lulus kuliah. Setelah lulus, Asep terus aktif dalam dunia dakwah. Ia pun dikenal oleh masyarakat sebagai salah seorang da‘I yang juga aktif dalam bidang pendidikan dan politik.

    Nah, Asep yang dulu penjual gorengan itu sekarang ada di rumah kita,” pungkas Bu Netty Prasetiyani sambil tersenyum mengakhiri cerita kepada anak-anaknya. “Oh, jadi Asep penjual gorengan itu Bapak, ya?’ Itulah ungkapan yang muncul dari anak-anak saat pertama kali mendengar cerita ‘Asep Penjual Gorengan’,” tambah Bu Netty.

    Kami tidak menyangka bahwa ternyata kisah “Asep Penjual Gorengan” itu adalah kisah nyata Gubernur Jawa Barat saat masih kecil, di daerah Sukabumi. Ternyata, Asep itu adalah panggilan Pak Ahmad Heryawan waktu kecil. Saya baru ingat bahwa Universitas Muhammad Ibnu Sa‘ud cabang Asia Tenggara itu bernama LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) yang bertempat di Jakarta dan merupakan kampus tempat Pak Ahmad Heryawan dahulu berkuliah dan menimba ilmu bahasa Arab dan keislaman.
     
    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. Pejuang Subuh|Kota Bekasi - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by PS. Bekasi