Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.
    Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

    Perjalanan DAKWAH Ini Seperti mendaki GUNUNG

    Oleh : Agung Nursidik, S.Pd, CNLP
    Perjalanan DAKWAH ini begitu jauh bahkan lebih jauh dari jarak yang kita kira. Perjalanan DAKWAH ini sangat panjang, bahkan lebih panjang dari usia kita. Perjalanan DAKWAH ini sangat sulit, penuh onak dan duri.




    Sahabat " Pejuang Subuh " kendaraanmu adalah bagian dari mata rantai DAKWAH ini. Persiapkan dirimu dalam menghadapi perjalanan ini. Bekal saja tidak cukup, semangat saja tidak cukup, pengorbanan saja tidak cukup, kesungguhan saja tidak cukup.


    Lalu apa?, kebersamaan Allah dan Rasul-Nya yang menjadi Suplemen kekuatan. Karena dengan-Nya akan di tunjukan jalan - jalan kemudahan dan keridoan-Nya.

    "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." ( Al-Ankabut : 69 )

    Kebersamaan DAKWAH ini akan menyeleksi para PEJUANG - PEJUANG yang sesungguhnya.

    Saat awal mendaki GUNUNG masih begitu kuat tekad itu.

    1. Hingga sampai di kaki gunung ada beberapa yang jatuh terpeleset, hingga mereka katakan " aduh...aku jatuh terpeleset, kakiku berdarah, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan ini ". Yang lain pun berkata " Ayolah sahabat jangan mudah goyah, ayo kita lanjutkan perjalanan ini, perjalanan kita masih jauuh.." Mereka yang terpeleset berkata " Aku sepertinya sdh tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan ini, biarlah aku kembali pulang, kalian lanjutkan saja perjalanan kalian"
    2. Saat sampai di pertengahan ada sebagian yang terperosok. "Aduh...aku jatuh terperosok, kakiku terluka parah dan berdarah" Hingga sahabat yang lain berkata "Ayo sahabatku, sedikit lagi kita akan sampai, jangan sia -siakan perjalan kita, ada sesuatu yang indah di atas sana yang akan kita temui". Yang jatuh terperosok menjawab "aduh...kakiku perih..., labam dan darah terus mengalir, biarkanlah aku menunggu di sini, kalian lanjutkan saja perjalanan kalian."
    3. Yang tersisa dari perjalanan ini adalah orang - orang pilihan Allah, karena mereka berjalan karena yakin di sana ada janji Allah yang indah dan yang mereka akan temukan...

    Itulah sahabat PS Bekasi. Maka menjadi kelompok yang manakah kita dalam perjalanan ini?. Mereka yang selalu berusaha melanjutkan perjalanan adalah orang yang memiliki punggung yang kuat. Karena Allah akan memberikan amanah dakwah ini pada mereka yg memiliki punggung yang kuat.


    Janganlah kita menjadi tiga tipe kader dalam DAKWAH ini,

    1. Kader yang meninggalkan DAKWAH, ia adalah yang pelan - pelan, sedikit demi sedikit menjauh dan meninggalkan DAKWAH
    2. Kader DAKWAH yang tertinggal, ia adalah kader yang terseok - seok dalam mengikuti DAKWAH ini
    3. Kader yang ditinggal oleh DAKWAH ini, ia adalah yang duduk - duduk santai dan hanya menunggu, maka lambat laun akan di tinggal oleh DAKWAH.

    Ingatlah bahwa kitalah yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kita. Dakwah akan terus berjalan tanpa ataupun adanya kita.

    Untukmu PS Bekasi
    Allahu Akbar 3 X

    Kedahsyatan Sholat Tahajud



    shalat tahajud
    Shalat tahajud adalah satu-satunya shalat sunnah yang disebutkan dalam Al Qur’an. Hukumnya wajib bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sunnah bagi umatnya. Demikian dijelaskan Ibnu Katsir ketika menafsirkan Surat Al Isra’ ayat 79.

    وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

    “Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajud-lah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS. Al Isra’: 79)
    Makna tahajud adalah shalat yang dikerjakan setelah tidur. Waktunya terbentang mulai setelah isya’ hingga sebelum Subuh, dengan didahului tidur. Dan waktu paling utamanya adalah di sepertiga malam yang terakhir.
    Sering kali shalat tahajud disebut qiyamul lail meskipun qiyamul lain bersifat umum; menghidupkan malam dengan ibadah baik tahajud, shalat witir, maupun tarawih.
    Shalat tahajud dikerjakan dua rakaat salam – dua rakaat salam. Paling sedikit dua rakaat, dan Rasulullah biasa mengerjakannya delapan rakaat.
    Siapa yang biasa mengerjakan shalat tahajud, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan maqaman mahmuda baginya. Maqaman mahmuda bagi Rasulullah adalah kedudukan mulia memberikan syafaat di akhirat. Sedangkan bagi umatnya, maqaman mahmuda adalah kedudukan mulia di sisi Allah Azza wa Jalla.
    Selain mendapatkan kedudukan mulia di akhirat, orang-orang yang ahli shalat tahajud juga akan mendapatkan kedudukan yang mulia di dunia. Allah akan memberinya kemuliaan dan kewibawaan.

    وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْـمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ

    “Dan ketahuilah, bahwa kemuliaan dan kewibawaan seorang mukmin itu ada pada shalat malamnya” (HR. Hakim; hasan)
    Ketika seorang mukmin mengerjakan shalat tahajud di sepertiga malam yang terakhir, ia akan mendapatkan ampunan, kebaikan, dan pengabulan doa. Sebab dalam shalat terhimpun permohonan ampunan, kebaikan dan doa-doa. Apalagi jika ditambah doa lainnya setelah shalat tahajud maka lengkaplah sudah.

    يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

    “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: “Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya. Barangsiapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Dan barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.” (HR. Bukhari)
    Hasan Al Basri menjelaskan bahwa shalat tahajud bisa membuat wajah seorang mukmin cerah karena ia telah menyendiri dengan Allah, kemudian Allah mengenakan kepadanya cahaya dari cahaya-Nya. Adapun orang yang suka berbuat dosa dan kemaksiatan, mereka pasti terhalang dari shalat sunnah yang paling utama ini.
    Dalam penelitian ilmiah di era modern diketahui bahwa shalat tahajud juga bermanfaat secara medis. Orang yang terbiasa menjalankan tahajud, ia relatif lebih sehat dibandingkan orang-orang yang tidak mengerjakannya. Sejumlah buku tentang manfaat shalat tahajud secara medis telah ditulis dan diterbitkan untuk semakin menguatkan motivasi kita, meskipun niatnya harus tetap ikhlas karena Allah semata. [Muchlisin BK/Bersamadakwah]
     

    Wahai Pemuda Ada Apa Denganmu ( Bagian 2 )


    Oleh Ustd. Agung Nursidik
    Sahabat Pejuang Subuh, hari ini kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang kondisi pemuda saat ini. Setelah kita mengetahui tentang potensi dan jati diri pemuda di antaranya yaitu bahwa pemuda adalah kuat, pemuda adalah amanah, pemuda adalah tanggung jawab, pemuda adalah sebagai genarasi pengganti. Maka di saat itulah musuh – musuh Islam dengan berbagai macam cara mereka akan selalu menghancurkan pemuda Islam agar kehilangan potensi dan jati dirinya. Kita harus tau betul apa saja ancaman – ancaman dan tujuan dari musuh – musuh Islam untuk membuat pemuda kehilangan akan jati dirinya. Tujuannya adalah agar mereka tidak tau apa yang sesungguhnya yang terjadi dengan dirinya, ada apa dengan dirinya, hingga berujung kepada kelemahan dan kehancurannya.
    وَلَن تَرْ‌ضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَ‌ىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّـهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّـهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ‌ ﴿١٢٠
    “ Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” ( QS. 2 : 120 )
    Kalau kita melihat ayat di atas sudah sangat jelas tujuan Yahudi dan Nasrani sebagai musuh Islam adalah, agar kita masuk dan mengikuti perangkap mereka, ideology mereka, budaya meraka, kebiasaan mereka dan lain – lain. Mari kita perhatikan, apa saja perangkap – perangkap meraka :
    1.     Problematika Kehidupan Pemuda :
    a.     Gila hoby dan bermain game :
    inilah perangkap dan ancaman yang sudah banyak terjadi, bahkan korbannya bukan saja pemuda, tetapi mulai dari anak – anak sampai dewasa. Ada apa dengan game?. Perhatikanlah beberapa fakta tentang game online atau Play Station. Lee Seung Seop Tewas oleh Starcraft (2005), Peter Burkowski  (18 th) tewas oleh Arcade, Qiu Chingwei membunuh temannya karena Dragon Sabre, Shawn Wolley (21 th) bunuh diri karena everquest, Xiao Yi (13 th) bunuh diri lompat gedung karena War wordcraft. Seorang pria warga China menghembuskan nafas terakhirnya setelah bermain game tiga hari berturut-turut tanpa henti. Dilansir melalui Fox News, Rabu (23/2/3011), pria yang namanya tidak disebutkan itu tidak pernah tidur selama tiga hari berturut-turut, ia pun tidak makan dan tidak beranjak satu jengkal pun dari komputernya. Padahal Rasulullah mengingatkan bahwa : “sebagian dari tanda kebaikan keislaman seseorang adalah : meninggalkan yang tiada manfaat baginya “ (HR Tirmidzi)
    b.     Gelombang Trend Idola
    Di jaman globalisasi seperti ini gelombang trend idola sudah sangat menjamur. Islam tidak melarang setiap umat memiliki panutan atau idola, tetapi yang di larang dalam Islam adalah jika kita mengidolakan yang bukan golongannya. Fakta berbicara Antrian Tiket konser Justin Biber di Bogor mencapai 1 kilometer !. Tiket konser Lady Gaga pada Juni 2012 saat ini - dua bulan sebelumnya - sudah habis ( 44.000 tiket dengan harga antara Rp 465.000 sampai Rp 2.250.000. ). Padahal Rasulullah mengatakan bahwa : “Barang siapa menyerupai sebuah kaum, maka dia bagian dari mereka “ (HR Abu Daud).
    c.      Dunia Coba – Coba
    Pada kenyataannya, kondisi pergaulan yang ada saat ini lebih cenderung mengarah kepada pergaulan bebas, dan coba – coba. Yang menjadi korban dari dunia ini adalah anak – remaja, sehingga ketika ia dewasa sudah menjadi pelaku aktif. Di antaranya adalah pacaran, rokok, narkoba, miras dan lain – lain. Survei berbicara 3 dari 10 pelajar di Indonesia pernah merokok sebelum usia 10 tahun. 34,58 persen pelajar tingkat SLTA  perokok aktif. Survei Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan, prevalensi penyalahgunaan narkoba di lingkungan pelajar mencapai 4,7 persen dari jumlah pelajar dan mahasiswa atau sekitar 921.695 orang.
    d.     Mengekor Tradisi dan Sosial Media
    Sudah menjadi tradisi jika kondisi yang ada sekarang anak – anak muda lebih bangga, enjoy dan senang jika hari – harinya selalu berkerumun di tempat – tempat belanja modern. Tidak afdol rasanya jika setiap berbelanja tidak ke swalayan. Karena itu sudah menjadi kebiasaan maka lama – kelamaan bangsa Indonesia hanya hidup sebagai penikmat produk, bukan sebagai yang menemukan  atau menciptakan produk. Lalu ada apa dengan pacaran? Lalu inikah hasilnya ?Survei Komnas Anak di 12 Provinsi dengan responden 4500 remaja ( Tahun 2010). 97% remaja SMP dan SMA pernah melihat film porno. 93,7 % pernah berciuman hingga petting (bercumbu). 62,7 % remaja SMP sudah tidak perawan. 21,2 % remaja SMA pernah aborsi. Begitu juga dengan fasilitas social media yang begitu banyak. Semua fasilitas tersebut sangat mudah didapatkan dengan gratis melalui telepon gemgam yang sudah canggih. Sosial media seperti FB, Twetter, WA, Instagram sangat mudah di dapatkan. Islam tidak melarang menggunakan fasilitas tersebut, tetapi Islam hanya menginginkan menggunakan fasilitas tersebut sebagai kebaikan. Ingatlah bahwa media social akan menjadi bermanfaat jika yang menggunakan adalah orang yang baik, tetapi media social akan menjadi tidak baik atau bahkan kejahatan jika yang memakai adalah orang yang baik.

    Maka dari itu wahai pemuda, kenali diri kalian, kenali potensi kalian. Jangan sampai hidupmu sia – sia dan hancur dengan ketidaktahuan akan ancaman – ancaman yang merusak dirimu. Wallau alam
     

    Turki: Kami Tak Akan Tinggalkan Al Aqsha Sendirian



    Masjid Al Aqsha
    Tentara Israel kepung masjid Al Aqsha (Abdalado Photography)
    Pembelaan Turki kepada Masjid Al Aqsha terus bergulir. Bukan hanya dari pemerintah, namun juga dari para ulama dan tokoh masyarakat.
    Sejumlah ulama, tokoh masyarakat dan pejabat negara menyerukan perjuangan bersama untuk membebaskan Al Quds dan mengambil langkah pasti memposisikan kota suci tersebut dalam agenda internasioal dan Turki khususnya.
    “Kami tak akan tinggalkan masjid Al-Aqsha sendirian,” demikian pernyataan Forum Pertemuan Ayyub di Istanbul seperti dilansir InfoPalestina, Jum’at (22/1/2016).
    Juru bicara Forum Ayyub, wartawan dan kolumnis Abdullah Yaldiz menegaskan, kekerasan yang dialami oleh masjid Al-Aqsha dan politik yahudisasi yang diterapkan oleh Israel bertujuan menciptakan status quo baru di lapangan.
    Ia menambahkan, Al Quds bukan hanya milik warga Al Quds namun tanggungjawab seluruh pejabat dan kini sudah waktunya berbuat sesuatu untuk Al Quds dan tidak meninggalkan masjid Al Aqsha sendirian. [Ibnu K/Bersamadakwah]

    Misteri Usia 40 Tahun

    Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha

    Usia 40 tahun adalah usia penting bagi manusia. 40 tahun dalam hitungan Hijriyah sama dengan sekitar 38 tahun 9.5 bulan dalam hitungan Masehi.

    Begitu pentingnya sehingga Allah Swt memasukkan perkara ini di dalam Al-Qur’an Al-Karim.

    Maka demikian juga dalam kehidupan Nabi Saw. Mendekati usia 40 tahun, beliau mulai cenderung melakukan ‘uzlah. Beliau melakukan ikhtila’ di Gua Hira’, di sebelah Barat Laut Makkah.

    Terkadang beliau menyendiri hingga 10 malam, bahkan terkadang sampai sebulan. Beliau hanya pulang untuk mengambil bekal baru dari rumahnya. Demikianlah hingga Nabi mendapatkan wahyu pertama.[1]

    Nabi Saw suka membawa roti dari gandum dan air sebagai bekal makanan beliau di Gua Hira, Jabal Nur, yang jaraknya sekitar 2 mil dari Makkah.

     

     Gua itu tidaklah terlalu besar, panjangnya 4 hasta, lebarnya 3/4 hingga 1 hasta. Terkadang ada dari keluarga beliau yang menemaninya. Sesungguhnya, hasil pemikiran beliau yang mendalam telah memberikan ruang pemisah yang cukup lebar antara dirinya dan kehidupan masyarakatnya.

    Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa siapapun yang sedang dipersiapkan untuk menerima urusan yang besar, maka ruhnya harus dibuat kosong dari segala urusan dunia, dan dari segala kekotoran pemikiran.

    Terlebih jika urusan besar itu adalah untuk merubah wajah alam semesta dan sejarah yang menyertainya.[2]

    Allah Swt berfirman,
    "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

    Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.

    Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Al-Ahqaf/46:15)

    Do’a tersebut senada dengan do’a yang dilafazhkan oleh Nabi Sulaiman a.s. saat mengetahui para semut yang berlarian menuju rumah masing-masing agar tidak terinjak rombongan Nabi Sulaiman a.s.

    Sebagaimana firman Allah Swt,
    Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.
    (Q.S. An-Naml/27:19)

    Jika kita perhatikan, kegiatan uzlah ini dilakukan Nabi pada saat-saat puncak kesuksesannya sebagai pengusaha, dan ketinggian derajatnya di hadapan manusia.

    Ibnul Jauzi menggambarkan bagaimana Nabi begitu sibuk berdagang pada masa sebelum kenabian.[3].

    Maka dengan ‘uzlah, boleh jadi, ada begitu banyak penyakit yang tidak dapat dibersihkan kecuali bersama kesendirian manusia hanya kepada Sang Khalik.

    Ini memberikan pelajaran bahwa muhasabatunnafs, introspeksi diri, adalah bagian dari kesempurnaan perjalanan spiritual seseorang.

    Jika kita kaitkan dengan aspek kehidupan Nabi Saw pasca 40 tahun, terdapat hikmah yang luar biasa, bahwa karya-karya besar untuk Allah Swt membutuhkan pendidikan di dalam hati, khususnya berawal dari menghidupkan cinta kepada-Nya (mahabbatullah), karena tiada jihad dan tadhiyyah tanpa sumber mata air yang terus mengaliri motivasinya.

    Maka diantara sarana mahabbatullah ada tafakkur terhadap seluruh tanda-tanda kebesaran Allah, dan limpahan nikmatNya yang begitu besar.

    ‘Uzlah atau ikhtila’ ini juga dinamakan dengan tahannuts (dari tahannuf) yang berarti pembersihan diri (tabarrur).

    Menurut Ibn Ishaq, ‘Ubaid menjelaskan bahwa Nabi Saw menyendiri selama sebulan setiap tahunnya, dan seperti itulah bentuk tahannuts yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy di zaman Jahiliyah.[4]

    Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, usia 40 tahun adalah usia yang matang, dan rata-rata para Rasul dibangkitkan menjadi Rasul pada usia tersebut.[5]

    Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, usia 40 tahun adalah usia yang matang, dan rata-rata para Rasul dibangkitkan menjadi Rasul pada usia tersebut.[5]

    Tingkat kematangan psikologi berada pada puncaknya di usia ini. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa terdapat banyak hal dalam penghayatan agama ini yang tidak dapat dirasakan kenikmatannya, yang tidak menjadi mudah pelaksanaannya kecuali karena faktor umur dalam hal ini setelah 40 tahun.

    Maka jika di umur 40 tahun seseorang masih belum bisa mengendalikan syahwatnya, maka dikhawatirkan akhir hidupnya adalah akhir dengan syahwat sebagai pemenangnya.

    Disinilah kemudian ‘uzlah menjadi sesuatu yang patut dipertimbangkan sebagai satu di antara agenda kehidupan manusia pasca usia 40 tahun.

    Agama ini tidak menjadikan uzlah yang terus menerus sebagai sebuah kebaikan, karena dalam kesempatan yang sama agama ini juga mendorong manusia untuk khulthah (tetap bergaul dan berinteraksi).

    Tersampaikannya Hak Allah menjadi prioritas dan target kehidupan manusia. ‘Uzlah menjadi salah satu jalan keluar dalam pemenuhan hak Allah.

    Memahami cara beragama secara utuh akan menghindarkan kita dalam
    berlebih-lebihan dalam sebuah perkara, agar keinginan untuk menjaga agama melahirkan penjagaan agama itu sendiri.

    Rasulullah Saw. bersabda,
    “Sebaik-baik manusia ketika berhadapan dengan fitnah adalah orang yang memegang tali kekang kudanya menghadapi musuh-musuh Allah.

    Ia menakuti-nakuti mereka, dan merekapun menakut-nakutinya. Atau seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah”
    (HR. Al Hakim 4/446)

    Nabi Saw., juga bersabda, “Seseorang bertanya kepada Nabi: ‘siapakan manusia yang paling utama wahai Rasulullah?’

    Nabi menjawab: ‘Orang yang berjihad dengan jiwanya dan hartanya di jalan Allah’. Lelaki tadi bertanya lagi: ‘lalu siapa?’.

    Nabi menjawab: ‘Lalu orang yang mengasingkan diri di lembah-lembah demi untuk menyembah Rabb-nya dan menjauhkan diri dari kebobrokan masyarakat’”

    (Muttafaqun ‘alaih: HR. Al Bukhari 7087, Muslim 143)

    Namun agama ini juga memerintahkan umatnya untuk bergerak membawa perubahan (agent of change) kepada masyarakat umum.

    Nabi Saw. bersabda,
    “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka”

    (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 388)

    Dan serangkaian dalil lainnya yang mendukungnya. Maka memadukan keduanya adalah bagian dari menghidupkan agama ini. Dakwah membutuhkan motivasi dan ilmu. ‘Uzlah adalah bagian dari mengisi kembali kapasitas motivasi, sementara hadir pada majelis ilmu menjadi bagian dari mengisi kembali kapasitas kefahaman agama.

    Dalam bab ini, di masa Nabi Saw belum mendapatkan warisan ilmu kecuali nanti setelah beliau dibangkitkan sebagai Nabi Saw, maka ilmu turun terus menerus kepada beliau untuk disampaikan kepada umatnya.

    Dr. Musthafa as-Siba’i menjelaskan bahwa khalwat yang benar akan mengajaknya untuk bermuhasabah terhadap dirinya jika jiwanya teledor dalam kebaikan, pandangannya menyimpang, melenceng dari jalan hikmah, keliru dalam sistem, atau terlena bersama manusia di dalam berbantah-bantahan dan perdebatan, sehingga ia lupa mengingat Allah, lupa mengingat Akhirat, lupa Surga dan Neraka-Nya, lupa mengingat kematian, lupa akan dahsyat dan sengsaranya kematian.

    Maka khalwat dalam pengertian tahajjud dan qiyamullail menjadi kewajiban bagi Nabi Saw, sementara sunnah bagi selainnya. Ia menjadi kebutuhan para pengemban dakwah kepada Allah, syariat dan surga-Nya, karena di dalamnya terdapat suatu kenikmatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang Allah beri kemuliaan dengan kenikmatan tersebut.[6]

    Allah Swt berfirman, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Q.S. Al-Muzzammil: 1-6)

    Maraji’:

    1] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiyah li-Shirat al-Musthafa ‘alaihishshalatu wa salam, Libanon: Darul Fikr, 1977

    2] Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsum fi As-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhalish-Shalati wassalam, Riyadh: Darussalam, 1414H

    3] Ibnul Jauzi, Al-Wafa bi Ahwali al-Musthofa, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004

    4] Ibn Ishaq, As-Sirah An-Nabawiyah

    5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zaad al-Ma’ad, Dar at-Taqwa lil Nasyr wa at-Tauzi’, 199

    6] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah An-Nabawiyah, Kairo: Dar as-Salam, Cet. I, 1998

    [ iman - islam ]

    BELAJAR DARI KETERBATASAN SI FAJAR

    Tayangan spesial pada acara Yamaha Religi RTV, yang menghadirkan sekmen khusus para penghafal Al – Qur’an, salah satunya yang mendapatkan kesempatan bertemu dengan Ustd. Yusuf Mansyur pada acara tersebut adalah Fajar.
    Fajar adalah nama panggilan akrabnya, anak dari ibu Heni. Ia terlahir dalam kondisi premature yaitu saat berusia kehamilan 7,5 bulan, berat badannya pun hanya sekitar 1,6 kg. Kondisi jantung klepnya masih terbuka, dan paru – parunya belum bekerja dengan sempurna. Analisa dokter Fajar mengidap cerebral palsy sehingga ada beberapa sel – sel otaknya yang rusak.

    Dari Seorang Nabi Palsu, Menjadi Seorang Pejuang Tauhid Sumber

    Pemateri: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP

    Pertempuran Buzakha - September 632

    Pertempuran pada bulan Jumadits Tsani 11 Hijriah (September 632) ini mempertemukan Khalid ibn al-Walid (ra) Thulayha ibn Khuwailid ibn Nawfal al-Asadi.

    Latar Belakang

    Thulayha adalah seorang kepala suku Arab dari Banu Asad ibn Khuzaymah yang kaya raya dan terkenal, namun ia menolak bahkan memerangi Nabi Muhammad (saw) ketika menyampaikan da'wahnya. Pada tahun 625, yaitu 2 tahun setelah hijrah, ia dikalahkan dalam Pertempuran Qatan yang merupakan serangan mendadak oleh kaum Muslimin dipimpin Abu Salamah (ra) ketika Banu Asad sedang bersiap untuk mengepung kota Madinah.

    Kekalahan itu tidak membuatnya jera, bahkan ia turut bergabung dengan suku Quraysh lainnya bersama suku Yahudi dalam mengepung kita Madinah dalam Pertempuran Khandaq/al-Ahzab pada tahun 627.

    Pada tahun 630, ia masuk Islam langsung dihadapan Nabi Muhammad (saw) tidak lama setelah Makkah dibebaskan dari kejahiliahan. Namun, setahun setelah itu ia memberontak dengan mengklaim dirinya juga mendapat wahyu sebagai nabi. Thulayha menjadi orang ketiga yang mengklaim kenabian diantara bangsa Arab. Pengakuan dari berbagai suku Arab lainnya membuat Thulayha lupa diri dan ambisius untuk membentuk konfedetasi suku Arab melawan kaum Muslimin.

    Kekuatan yang Bertarung

    Pada bulan Juli 632, khalifah Abu Bakr (ra) memobilisir pasukan untuk memerangi suku-suku Arab yang memberontak. Balatentara ini dibagi 3 dengan komandannya masing-masing diserahkan kepada 'Ali ibn Abi Thalib (ra), Talhah ibn 'Ubaidillah (ra), dan az-Zubayr ibn al-Awwam (ra). Balatentara kaum Muslimin ini menyerang konfederasi pimpinan pengaku nabi Thulayha di Pertempuran Dzu al-Qassa yang juga merupakan pendadakan (pre-emptive strike) pada pusat penggalangan kekuatan lawannya. Kekalahan tertimpa pada pihak Thulayha dan memaksa mereka mundur ke ke Dzu al-Hassa.

    Kini Abu Bakr (ra) menugaskan Khalid ibn al-Walid (ra) untuk menghancurkan sisa kekuatan Thulyha, kedua kekuatan ini berjumpa di sebuah tempat yg bernama Buzakha. Khalid (ra) berkekuatan 6.000 personil sedangkan Thulayha memiliki 15.000 personil yang loyal kepadanya.

    Pertempuran

    Khalid (ra) menantang duel Thulayha sebelum pertempuran. Ia menyambut ajakan duel tersebut namun cidera hingga lari berlindunh di belakang pasukannya. Pertempuran ini berlangsung sengit, dalam jarak dekat, serta bertubi-tubi dimana kemenangan terlihat akan jatuh kepada pihak yang paling kokoh. Hampir tidak ada manuver-manuver taktis yang menjadi ciri khas Khalid (ra) dikemudian hari terlihat pada pertempuran ini. Keahlian tanding pasukan Muslimin secara individual sangat menonjol pada pertempuran ini. Dengan perbandingan 1:2 pasukan Muslimin yang lebih sedikit berhasil kemudian mendapatkan kemenangan.

    Setelah kekalahan telak yang menimpa suku-suku pendukung Thulayha, banyak yang kemudian insyaf dan masuk Islam kembali. Namun Thulayha berhasil lolos kembali dan bersembunyi di Syam. Setelah Syam pula berhasil ditaklukkan kaum Muslimin barulah Thulayha menerima Islam secara menyeluruh.

    Setelah itu, Khalid (ra) diperintahkan langsung bergerak menuju pusat kekuatan tokoh pemberontak lainnya yang bernama Sajah dan mengalahkannya di Pertempuran Zafar pada bulan berikutnya.

    Kesudahan & Kisah Thulayha di Kemudian Hari

    Thulayha meminta ampunan kepada khalifah Abu Bakr (ra) dan ia beserta sukunya mendapatkan ampunan tersebut. Namun mereka dilarang Abu Bakr (ra) untuk turut serta berperang bersama kaum Muslimin yang tidak oernah murtad maupun memberontak.

    Tahun 634, pada masa kekhilafahan 'Umar ibn al-Khaththab (ra) barulah Thulayha dan sukunya mendapatkan kesempatan untuk menebis masa lalunya yang kelam. Mereka dikerahkan oleh 'Umar (ra) untuk berperang di front Irak melawan balatentara Sassania Persia. Pertama kalinya ia berperang pada pihak kaum Muslimin adalah pada Pertempuran Jalula.

    Thulayha menuliskan sejarah gemilang pada Pertempuran Qadhisiyya sebagaimana yang tertulis pada kitab Tarikh al-Umam wal-Muluk karya Imam Thabari. Thulayha dan suku Bani Asad menjadi penentu bertahannya pasukan kaum Muslimin di hari pertama dalam pertempuran al-Qadhisiyya yang dikenal sebagai Yaum-ul-Armats (يوم أرماث) atau hari kekacauan  ("The Day of Disorder"). Ia tercatat dalam serbuan seorang diri ke barisan lawan pada malam hari serta berhasil membawa tawanan perang. Ia juga tercatat pernah menerobos hingga ke barisan tenda di lini belakang Sassania serta berhasil merubuhkan tenda-tenda lawan, membunuh 2 pasukan elit Sassania, merampas 2 kuda perang berbaju zirah yang ia bawa kembali ke barisan kaum Muslimin, berikut menyerahkan 1 tawanan kepada panglima Sa'ad ibn Abi Waqqasy (ra).

    Thulayha mendapatkan syahidnya di Pertempuran Nihavand dengan mengorbankan jiwa raganya guna memancing balatentara Sassania Persia ke dalam jebakan kaum Muslimin sehingga membawa pada kemenangan yang menjadi titik nadir dan kekalahan total dinasti Sassania.

    Agung Waspodo, mencatat sebuah epos kehidupan seorang Thulayha yang berawal sebagai musuh Nabi (saw) namun mengakhirinya sebagai pejuang di jalan Allah Ta'ala. Semoga ia diampuni atas dosanya terdahulu dan diterima sebagai mujahid yang ikhlas.. 1.383 tahun kemudian.

    Depok, 2 September.. masuk waktu subuh.

    Dipersembahkan:
    Majelis Iman dan Islam

    Sebarkan! Raih pahala...

    KEJUJURAN


    Pemateri: Ust. Dr. Abas Mansur Tamam


    Kejujuran merupakan anak kandung dari iman.
    Itu sebabnya salah satu ciri orang munafik adalah suka berbohong ketika berbicara.

    Sedangkan orang beriman meskipun ia belum bisa menghilangkan sebagian sifat buruk, seperti pelit atau penakut, tetapi tidak boleh memiliki sifat pembohong.

    Di bawah ini ayat Alquran dan hadis yang mengajarkan sifat kejujuran.

    1. Ayat Alquran

    QS Al-Baqarah [2]: 42
    Allah Swt. berfirman:

    وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة [2]: 42)

    Artinya: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil, dan janganlah kamu menyembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui” (Al-Baqarah [2]: 42).

    Ayat di atas mengajarkan akhlak kejujuran.

    Kejujuran akan berdampak baik dalam kehidupan bermasyarakat, karena orang-orang akan menyukainya sebagai orang yang jujur.

    Kejujuran juga akan berdampak baik dalam kehidupan beragamanya, karena akan membuatnya bersikap terbuka dengan kebenaran, mau menerima serta melaksanakan kebenaran.

    Dan ketika ajaran-ajaran Islam semuanya merupakan kebenaran, maka orang yang jujur sangat bersemangat dalam menjalankan agamanya.

    Sebaliknya kebohongan akan berakibat buruk.

    Berdampak buruk terhadap kehidupan bermasyarakat, karena orang-orang tidak akan menyukainya sebagai seorang pembohong.

    Kebohongan juga akan berdampak buruk dalam kehidupan beragama, karena akan membuatnya antipati terhadap kebenaran.

    Karena itu sangat mungkin dari kebohongannya itu akan melahirkan sikap memerangi agama Allah dengan cara menyesatkan orang lain.

    Menurut ayat di atas, ada dua cara seorang pendusta dalam menyesatkan manusia:

    a. Mencampur-adukkan hak dengan batil, sehingga seolah-olah kebenaran dan kebatilan itu relatif alias abu-abu. Inilah yang dimaksud dengan tidak boleh mencampur-adukkan haq dengan batil.

    b. Menolak kebenaran dan menyembunyikannya, sehingga tidak Nampak.
    Ini yang dimaksud dengan larangan untuk menyembunyikan haq.

    2. Hadis Kejujuran:

    Nabi Saw. bersabda:

    عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فإن الصِّدْقَ يهدى إلى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يهدى إلى الْجَنَّةِ، وما يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حتى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

    Artinya: “Berbuat jujurlah kalian! Karena kejujuran menunjukkan pada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke surga.

    Dan tidaklah seseorang terus berbuat jujur dan dengan sadar mengupayakan kejujuran, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur” (Muslim, 4/2607).

    Hadits tadi menyebutkan tata-cara seorang Muslim membina dirinya menjadi orang yang jujur.

    Bahwa ada beberapa tips menjadi seorang yang jujur:

    a. Penghayatan iman tentang surga dan neraka. Bahwa kebaikan berbalas surga, dan keburukan berbalas neraka.

    b. Pengetahuan bahwa kejujuran menjadi gerbang kebaikan, dan kebohongan menjadi gerbang keburukan. Kejujuran menjadi sifat dasar seorang Muslim.

    c. Terus mengupayakan kejujuran. Karena memiliki sifat jujur membutuhkan proses, yaitu upaya terus-menerus untuk jujur, meskipun banyak godaan untuk berbohong.

    d. Berhati-hati agar tidak berbohong. Misalnya, ketika dalam pembicaraan telepon seseorang ditanya sedang dimana? Dia menjawab sedang di luar kota. Dalam hatinya dia bermaksud bahwa ia berada di kota yang berbeda dari penelepon.

    Dia sadar bahwa penelpon akan menangkap bahwa dia benar-benar sedang pergi ke luar kota.

    Gaya pembicaraan seperti ini jika terus dilakukan bisa membuatnya terbiasa berbohong.

    3. Kriteria Kejujuran:

    Dalam bahasa Arab, jujur (sidq) adalah lawan dari berbohong  (kadzib).

    Kejujuran aselinya disebutkan dalam konteks pembicaraan.

    Karena itu jujur didefinisikan sebagai kesesuaian antara perkataan dengan hati dan objek yang dikabarkan (Al-Munawi, At-Ta’arif, 451).

    Sehingga jika suatu pembicaraan tidak sesuai dengan objek yang dikabarkan, ia merupakan kebohongan.

    Tetapi jika pembicaraan sesuai dengan objek berita, tetapi tidak sesuai dengan hati, maka dari segi kesuaiannya dengan objek berita disebut benar. Tetapi dari sisi perbedaannya dengan hati disebut kebohongan.

    Seperti orang munafik yang menyebut bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

    Perkataan itu benar, tetapi karena tidak sesuai dengan keyakinan dalam hatinya, mereka disebut telah berbohong.

    Firman Allah:

    “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. Tetapi Allah mengetahui sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta” (Al-Munafiqun [63]: 1).

    Wallahu a'lam.

    Dipersembahkan:
    Majelis Iman dan Islam

    LUKISAN KEHIDUPAN

    Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

    Kita tentu pernah melihat sebuah lukisan yang indah, katakanlah tentang lukisan sebuah pemandangan.

    Sering kita terkesima dan terpana dengan lukisan seperti itu, komentar-komentar takjub dan apresiasi positif reflek terlontar dari mulut-mulut kita.

    Tapi yang patut kita sadari adalah bahwa sesungguhnya yang membuat menarik bukan sekedar pemandangannya, tetapi kemampuan orang yang melukiskannya.

    Dengan objek pemandangan yang sama, jika dilukis oleh orang yang bukan ahlinya, tentu akan berbeda pula sikap dan apresiasi kita terhadap lukisan tersebut.

    Kehidupan kita ini, pada dasarnya merupakan ‘pemandangan’ yang akan terekam bak sebuah lukisan.

    Bolehlah hal tersebut kita katakan sebagai ‘Lukisan Kehidupan’. Dan kitalah yang telah Allah tetapkan untuk menjadi pelukis bagi kehidupan kita sendiri.

    Maka, langkah kaki, lenggang tangan, lidah yang terucap, sejurus pandangan mata, pendengaran telinga dan gerak semua organ tubuh kita, tak ubahnya bagaikan kuas yang sedang menari-nari di atas kanvas kehidupan.

    Itulah arti dari hari-hari yang kita lalui dalam kehidupan ini.

    Oleh karena itu, kini masalahnya bukan lagi apakah kita seorang maestro pelukis terkenal macam Picasso dan Afandi atau bukan, tetapi adalah bahwa -suka atau tidak suka- hasil ‘lukisan’ kita pada akhirnya akan dilihat dan dinilai orang.

    Kesadaran tersebut jelas akan mendorong naluri kita untuk berkata bahwa ‘lukisan kehidupan’ saya harus terlihat indah dipandang.

    Dan selama kesempatan melukis itu masih diberikan, kita masih diberi kebebasan berekspresi untuk memperindah lukisan kehidupan kita, meluruskan guratan-guratan yang kurang harmonis, memperjelas sapuan warna yang buram, mengarahkan segmen gambar yang tak terarah, dst.

    Hingga akhirnya, ketika mata ini terpejam dan nafas terakhir telah dihembuskan, itulah saatnya lukisan kita telah usai lalu dibingkai, dan kemudian siap dipajang di ‘ruang depan rumah kita’.

    Ketika itu pula kita tinggal menunggu bagaimana komentar orang-orang yang melihat lukisan kita yang secara refleks –tanpa basa basi dan formalitas- akan terlontar dari mulut-mulut mereka.

    Bagaimana reaksi dan apresiasi yang akan mereka berikan, tentu sangat tergantung dengan kualitas lukisan yang terpampang.. Di situlah salah satu parameter kehidupan kita sedang ditentukan.

    Suatu saat para shahabat melihat jenazah yang sedang digotong, lalu mereka memuji kebaikannya, maka Rasulullah saw bersabda, ‘pasti.’

    Kemudian lewat lagi jenazah yang lain, lalu mereka menyebut-nyebut keburukannya, Beliau bersabda, ‘Pasti.’

    Umar bin Khattab bertanya, ‘Apanya yang pasti wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, “Yang kalian sebutkan kebaikannya, pasti masuk surga, sedangkan yang kalian sebutkan keburukannya pasti masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi ini.” (Muttafaq alaih)

    Seorang penyair berkata,

    إنما المرء حديث من بعده
    فكن حديثا حسنا لمن وعى

    Innamal mar’u hadiitsu man ba’dahu
    Fa kun hadiitsan hasanan liman wa’aa

    Seseorang akan menjadi pembicaraan orang-orang sesudahnya.

    Maka jadilah bahan pembicaraan yang baik bagi orang yang mendengarnya.

    Dipersembahkan:
    Majelis Iman dan Islam

    Sebarkan! Raih pahala...


    Pemateri: Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS.

    Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:

    Untuk mengetahui batasan-batasan pergaulan Muslim dan non Muslim, maka panduan kita adalah Al Quran dan As Sunnah, sebagai rujukan tertinggi umat Islam dan pedoman hidup bagi kaum Muslimin. Bukan pemikiran untung rugi masing-masing manusia yang subjektif.

    Perayaan Keagamaan Adalah Wilayah Aqidah Bukan Muamalah

    Persepsi ini harus dibangun dalam pemikiran kaum Muslimin,  bahwa perayaan keagamaan adalah masalah aqidah, bukan masalah muamalah (hubungan interaksi sosial), bukan pula budaya. Dalam masalah aqidah kita memiliki batasan-batasan yang jelas, yakni:

     لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

    “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al Kafirun (109): 6)

    Tidak sedikit kaum Muslimin yang keliru dalam menempatkan teks-teks agama. Mereka berdalih dengan ungkapan:Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Ungkapan ini benar jika ditempatkan dalam hubungan sosial, seperti pinjam meminjam, hutang piutang, kerja sama dalam kebaikan sosial, dan yang semisalnya. Dalam hal ini Islam sangat membuka diri dan luwes. Bahkan dalam hukum Islam, kaum kafir dzimmi mendapatkan perlindungan dari pemerintahan Islam dan masyarakatnya. Mereka sama sekali tidak boleh diganggu, kecuali jika mereka mengumumkan perang terhadap umat Islam.

    Nah, mari kita lihat bagaimana Al Quran dan As Sunnah menyikapi perayaan hari besar keagamaan non Muslim.

    Kesetiaan (Wala’) Kaum Muslimin Hanya Kepada Allah, RasulNya, dan Kaum Muslimin

    Kita lihat ada sebagian kaum Muslimin yang begitu enggan dengan undangan sesama Muslim, ajakan saudaranya, dan acara sesama umat Islam, seperti majelis ta’lim dalam rangka menggali ilmu-ilmu agama. Tetapi anehnya, mereka bersemangat dengan ajakan dan undangan orang kafir kepada mereka. Sungguh aneh! Mereka pun merasa bangga dengan kebersamaannya dengan orang-orang kafir tersebut. Persis seperti yang Allah Ta’ala sindir dalam Al Quran.

    Allah Ta’ala berfirman:

    “(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi  wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An Nisa (4):139)

    Ayat lainya:

    “Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman yang menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan mereka orang-orang yang ruku’ (tunduk). (QS. Al Maidah (5): 55)

    Ayat lainnya:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (pemimpin-pemimpinmu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah (5) : 51)

    Apakah makna wali ? Wali jamaknya adalah auliya’ yang berati penolong dan kekasih.[1] Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, yang mengusai (pemimpin).[2]

    Maka, jelaslah bahwa umat Islam tidak dibenarkan menjadikan orang kafir sebagai penolong, kekasih, teman dekat, dan pemimpin mereka. Sebab wali kita hanyalah kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman.

    Ikut merayakan dan menghadiri Hari Raya mereka merupakan salah satu bentuk keakraban dengan mereka dalam hal keagamaan. Ini semua tercela. Kita terbuai dengan perangkap syetan yang ada dibalik istilah toleransi yang tidak pada tempatnya. Ditambah lagi, khususnya Natal, mereka menyebut apa yang mereka lakukan adalah budaya, atau dialog antar budaya, bukan ritual keagamaan. Ini merupakan talbis (perangkap) dan syubhat pemikiran yang menggelayuti pemikiran mereka.

    Dialog antar budaya bukan dengan mengikuti acara hari besar non Muslim, yang merupakan simbol utama sebuah agama. Bukan duduk bersimpuh mendengarkan ayat-ayat mereka. Bukan ikut berdiri ketika mereka berdiri dan duduk ketika mereka duduk, dan bernyanyi ketika mereka nyanyi, lalu memakan makanan ritual keagamaan mereka, bertepuk tangan menyanjung mereka, dan ikut berbahagia atas perayaan mereka. Itu bukan dialog yang diinginkan Al Quran, walau bisa jadi itulah dialog yang diinginkan ala mereka. Itu bukan  memperkaya aqidah, tetapi ittiba’ bil kuffar (mengekor kepada kaum kuffar).

    Dialog itu adalah berdiskusi, tanya jawab, munazharah, debat yang baik, agar mereka mau menerima Islam; baik menerima menjadi agama mereka, atau menerima Islam sebagai  agama yang eksis dan mereka mau berdampingan dengan tidak saling menganggu.

    Memperkaya aqidah adalah dengan banyak-banyak mengkaji Al Quran melalui para ahlinya, mempelajari As Sunnah, mempelajari sejarah para nabi dan orang-orang shalih, hidup bersama orang shalih dan kaum beriman, dan berbanggalah dengan itu.

    Memperkaya aqidah bukan dengan berbasa basi dengan kekafiran dan penyimpangan mereka, bukan dengan mengikuti perayaan mereka, dan justru berbangga dengan itu, ini adalah sinkretisme yang dibaluti toleransi agama yang bukan pada tempatnya.

    Lalu, yang terpenting adalah bahwa larangan mengikuti Hari Raya mereka adalah bagian dari ta’abbudi (peribadatan) yang manshush ‘alaih (disebutkan dalam nash), yang sikap kita adalah dengar dan taat.  Turun atau tidak keimanan Anda,  tetap stabil atau labil keadaan iman Anda, maka larangan tersebut tetaplah berlaku. Larangan tersebut tetap ada walau pelakunya adalah seorang yang merasa sangat shalih dan mukmin, dan mampu menjaga keimanannya.

    Peringatan Allah Ta’ala Bagi Kaum Muslimin

    Jauh-jauh hari, 15 abad yang lalu, Al Quran telah memberikan panduan bagi umatnya untuk melindungi aqidahnya, yakni untuk tidak mengikuti mereka, tidak memenuhi ajakan mereka dalam hal aqidah dan keagamaan.  Namun, entah ke mana dan di mana ayat-ayat ini  dalam sanubari umat Islam?

    Allah Ta’ala berfirman:

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra’ (17): 36)

    “Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”(QS. Al Baqarah (2): 109)

    Dalam ayat lain:

    “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS. An Nisa (4): 100)

    Ayat ini dengan jelas memperingatkan umat Islam untuk tidak mengikuti perilaku orang kafir, sebab niscaya mereka akan mengembalikan orang beriman menjadi kafir setelah beriman.

    Imam Ibnu Katsir mengatakan:

    يحذر تعالى   عباده المؤمنين عن سلوك طَرَائق الكفار من أهل الكتاب، ويعلمهم بعداوتهم لهم في الباطن والظاهر

    “Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada hamba-hambaNya yang beriman tentang jalan dan perilaku orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), dan memberitahu mereka tentang permusuhan mereka terhadap kaum beriman, baik yang di hati atau yang ditampakkan.”[3]

    Al Quran Melarang Umat Islam Mengikuti Hari Raya Orang Kafir

    Dalam Al Quran, mengikuti Hari Raya mereka diistilahkan dengan memberikan kesaksian palsu (Az Zuur). Allah Ta’ala  telah menegaskan demikian:

    “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqan (25): 72)

    Tentang makna ayat ini,  Abu Bakar Al Khalal meriwayatkan dalam Al Jami’, dari sanadnya sendiri dari Muhammad bin Sirin, tentang makna: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu ..,  katanya: itu adalah menghadiri Sya’anin.

    Sya’anin adalah Hari Raya Nasrani, mereka merayakannya dalam rangka mengenang kembali masuknya Isa Al Masih ke Baitul Maqdis.

    Begitu pula yang disebutkan dari Mujahid, katanya: “Mengikuti hari-Hari Raya orang musyrik.”[4]

    Begitu juga yang dikataka oleh Rabi’ bin Anas, katanya: “Mengikuti hari-Hari Raya orang musyrik.

    Semakna dengan ini, apa yang diriwayatkan dari Ikrimah, katanya: “(Tidak melakukan) permainan yang dahulu mereka lakukan ketika jahiliyah.”

    Al Qadhi Abu Ya’la mengatakan: “Ayat ini berbicara tentang larangan menghadiri Hari Raya orang-orang musyrik.”

    Adh Dhahak juga mengatakan: “(tidak) mengikuti Hari Raya orang musyrik.” Sementara Amru bin Murrah mengatakan: “Mereka tidak ikut bersama kaum musyrikin dan tidak membaur bersama mereka.”  Lihat semua tafsir ini dalam kitab Iqtidha’ Ash Shirath Al Mustaqim. [5]

    As Sunnah Telah Melarang Umat Islam Menyerupai dan Mengikuti Hari Raya Orang Kafir

    Ada dua pembahasan dalam bagian ini. Pertama, larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerupai orang kafir. Kedua, larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam   mengikuti hara raya orang kafir. Larangan berpartisipasi dalam perayaan Hari Raya orang kafir sangat kuat. Jangankan ikut andil, sekadar menyerupai mereka saja tidak dibenarkan. Ini membuktikan betapa kuat agama ini dalam melindungi umatnya, dari aqidah, kebiasaan, dan perilaku orang-orang kafir.

    1. Pertama, Larangan Menyerupai Orang Kafir

    Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

    “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.”[6]

    Imam As Sakhawi mengatakan ada kelemahan dalam hadits ini,   tetapi hadits ini memiliki penguat (syawahid), yakni hadits riwayat Al Bazzar dari Hudzaifah dan Abu Hurairah, riwayat Al Ashbahan dari Anas bin Malik, dan riwayat Al Qudha’i dari Thawus secaramursal.[7]  Sementara, Imam Al ‘Ajluni mengatakan, sanad hadits ini shahihmenurut Imam Al ‘Iraqi dan Imam Ibnu Hibban, karena memiliki penguat yang disebutkan oleh Imam As Sakhawi di atas.[8] Imam Ibnu Taimiyah mengatakan hadits ini jayyid (baik). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya hasan.[9]  Demikian status hadits ini.

    Oleh karena itu tidak dibenarkan menyerupai mereka dalam urusan agama, terlebih mengikuti  perayaan hari besar, yang merupakan hari utama mereka.

    Imam Al Munawi dan Imam Al ‘Alqami menegaskan hal-hal yang termasuk penyerupaan dengan orang kafir: “Yakni berhias seperti perhiasan zhahir mereka, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti mereka, dan perbuatan lainnya.” [10]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan mengatakan, dan ini merupakan  perkataan Imam Ahmad bin Hambal juga,  bahwa hadits ini merupakan dalil, paling sedikit kondisi penyerupaan dengan mereka merupakan perbuatan haram, dan secara zhahirnya bisa membawa pada kekufuran, sebagaimana ayat: “Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai wali, maka dia telah menjadi bagian dari mereka.” [11]

    Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

    ”Bukan golongan kami orang yang menyerupai selain kami.”. [12]

    Sebagaimana kata Imam At tirmidzi, Pada dasarnya hadits ini dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhai’ah seorang perawi yang terkenal kedhaifannya. Namun, hadits ini memiliki berapa syawahid (penguat), sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menghasankan hadits ini dalam berbagai kitabnya.[13] Begitu pula yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth, bahwa hadits ini memiliki syawahid yang membuatnya menjadi kuat.[14]

    Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri tentang hadits ini:

    لَا تَشَبَّهُوا بِهِمْ جَمِيعًا فِي جَمِيعِ أَفْعَالِهِمْ

    “Janganlah kalian semua menyerupai mereka dalam segala perilaku mereka.”[15]

    Tentu maksudnya adalah segala perilaku yang terkait dengan agama dan simbol agama mereka, baik acara keagamaan, pakaian keagamaan, dan lainnya. Namun, untuk perilaku di luar itu, yang terkait dengan kemaslahatan dunia dan kemakmuran manusia, seperti teknologi, ilmu pengetahuan, strategi perang, dan semisalnya, maka Islam membolehkan mengambil manfaat dari mereka.

    Ketika perang Ahzab yang biasa juga disebut perang Khandaq (parit), strategi yang diterapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya adalah strategi menggali Khandaq (parit) yang merupakan cara orang Persia (Majusi), atas usul sahabat Nabi, Salman Al Farisi Radhiallahu ‘Anhu ‘. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah menggunakan baju Romawi yang sempit padahal saat itu Romawi adalah Nasrani, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi.[16]

    2. Kedua, larangan Mengikuti Perayaan Hari Besar Orang Kafir

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,sudah melarang umatnya untuk mengikuti Hari Raya mereka. Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ketika hari Id:

    إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

    “Sesungguhnya setiap kaum memiliki Hari Raya, dan hari ini adalah Hari Raya kita.”[17]

    Maka, Hari Raya umat Islam adalah Hari Raya yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, saat itulah kaum Muslimin merayakan kebahagiaan mereka, kesenangan mereka, berhibur dari, makan-makanan yang enak dan lainnya. Bukan pada Hari Raya agama orang lain, baik Yahudi, Nasrani, Konghucu, Budha, Hindu, dan agama lainnya.

    Secara khusus, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang umat Islam mengikuti Hari Raya mereka.

    Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:

    كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

    “Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  datang ke Madinah, dia bersabda: “Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya,  yakni hari Fithri dan hari Adha.”[18]

    Al Hafizh Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari mengatakan hadits ini sanadnya shahih.[19] Syaikh Al Albani juga menshahihkannya dalam  Ash Shahihah.[20]

    Pada masa jahiliyah, kaum musyrikin memiliki dua hari, yakni Nairuz dan Mihrajan. Berkata Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim:

    “Dilarang (bagi umat Islam) mengadakan permainan dan berbahagia pada dua hari itu yakni Nairuz dan Mihrajan. Hadits ini juga terdapat larangan yang halus dan perintah untuk beribadah, karena kebahagiaan hakiki terdapat dalam ibadah.” (

    Lalu, disebutkan perkataan Al Muzhhir:

    “Ini merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” [21]

    Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan: “Dari hadits ini disimpulkan bahwa adalah hal yang dibenci berbahagia menyambut Hari Raya orang musyrik dan menyerupai mereka, dan telah sampai perkataan Syaikh Abu Hafsh Al Kabir An Nasafi dari kalangan Hanafiyah: ‘Barangsiapa yang memberikan hadiah kepada orang musyrik demi menghormati Hari Raya mereka, adalah perbuatan kufur kepada Allah Ta’ala.”.[22]

    Bahkan, lebih tegas lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melarang seorang Muslim membantu menjual keperluan orang Islam yang ingin ikut-ikutan Hari Raya mereka pada  Hari Raya orang kafir, baik berupa makanan,  pakaian, dan lainnya, sebab itu merupakan pertolongan atas kemungkaran.[24][23]

    Peringatan

    Hari Raya merupakan simbol utama dari sebuah agama. Bukan hanya simbol tapi juga waktu kebanggaan bagi masing-masing agama. Maka, perilaku mengikuti, merayakan, dan memperingati Hari Raya orang kafir merupakan perilaku melarutkan diri dalam sebuah simbol utama dan hari kebanggaan mereka. Maka, tidak syak(ragu) lagi keharamannya, bahkan sebagian ulama mengatakan kufur seperti yang kami sebutkan di atas. Apalagi jika seorang Muslim ikut-ikutan acara ritual yang ada di pelaksanaan Hari Raya tersebut seperti ikut kebaktian, ikut melagukan lagu puji-pujian mereka, ikut ke klenteng atau tepekong untuk sembahyang, dan semisalnya. Hal ini jika dilakukan karena kesadaran, tidak dipaksa, dan sudah disampaikan dalil kepada mereka, tetapi mereka masih membandel ikut-ikutan juga, maka  ini kufur menurut ijma’’ ulama. Tetapi, jika dilakukan karena kebodohannya, atau terpaksa dan dipaksa, dan belum disampaikan dalil kepada mereka, maka belum dikategorikan kafir.

    Ada pun orang Islam yang menjadi penggembira, yang ikut-ikutan berbahagia menyambutnya walau tidak ikut langsung dengan perayaannya, maka ini pun terlarang bahkan haram sebagaimana dijelaskan oleh para ulama di atas.

    Berikut ini fatwa Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah tentang sekedar mengucapkan selamat Hari Raya agama lain –yang sebenarnya lebih ringan dibanding ikut merayakannya:

    وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

    “Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, imlek, waisak, dll. pen) adalah  hal  yang diharamkan berdasarkan  kesepakatan  kaum Muslimin .  Misalnya memberi ucapan selamat pada Hari Raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan yang semacamnya.  Jika memang orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, namun  itu termasuk dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat Hari Raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai   Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia  layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Imam Ibnul Qayyim,Ahkam Ahlu Adz Dzimmah, Hal. 162. Cet. 2. 2002M-1423H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

    Demikianlah penjelasan Al Quran, As Sunnah, dan keterangan para Imam kaum Muslimin. Semoga bermanfaat bagi yang menginginkan kebaikan bagi agama dan dunianya.[25]

    Wallahu A’lam

    ______________________________

    [1] Imam Ibnu Jarir, Jami’ul Bayan, Juz. 9, Hal. 319. Muasasah Ar Risalah

    [2] Ahmad Warson Al Munawwir, Kamus Al Munawwir, Hal. 1582

    [3] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz. 1, Hal. 382. Darut Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’

    [4] Agama Konghucu dengan hari besar mereka, Cap Gho Meh, termasuk kaum musyrikin yang hari raya besar mereka harus dijauhi.

    [5] Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 381.

    [6] HR. Abu Daud No. 4031

    [7] Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 215

    [8] Imam Ismail bin Muhamamd Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa’, Juz. 2, Hal. 240. Darul Kutub Al ‘Ilmiah

    [9] Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, Juz. 11, Hal. 52. Cet. 2, 1415H.  Darul Kutub Al ‘Ilmiah

    [10] Ibid

    [11] Ibid. Lihat juga Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 214

    [12] HR. At Tirmidzi No. 2695

    [13] Lihat dalam Silsilah Ash Shahihah, Juz. 5, Hal. 193, No. 2194. Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 3, Hal. 23, No. 2723.  Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi, Juz. 6, Hal. 195. Shahihul Jami’ No. 5434

    [14] Raudhatul Muhadditsin, 10, Hal. 332, No. 4757

    [15] Syaikh Abul ‘Ala  Al Mubarakfuri,Tuhfah Al Ahwadzi, Juz. 6, Hal. 496

    [16] HR. At Tirmidzi No. 1768,   Katanya:hasan shahih

    [17] HR. Bukhari No. 952

    [18] HR.  An Nasa’i No. 1556, lihat jugaAs Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  No. 1755

    [19] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 3, Hal. 371.  Dalam kitabnya yang lain, yakni Bulughul Maram juga disebutkan demikian.

    [20] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani,  As Silsilah Ash Shahihah No. 2021

    [21] Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Juz. 3, Hal. 88

    [22] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 3, Hal. 371

    [23] Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 462

    [25] Namun belakangan ada pendapat yang membolehkan mengucapkan selamat hari raya kepada agama lain dengan tujuan sekedar mujamalah (basa-basi) saja, yakni pendapat Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dan Syaikh Mushthafa Az Zarqa. Kemudian pendapat mereka disalahgunakan kalangan JIL untuk memprogandakan agenda SEPILIS mereka. Padahal  garis pemikiran  kedua syaikh ini amat  bertolak belakang dengan pemikiran JIL. Dikira dengan mencatut dan mengutip pendapat Syaikh Al Qaradhawi umat mau saja dengan mudah mengikuti mereka. Tidak. Sebab kecintaan kita kepada ulama adalah kecintaan yang didasari rasa takut kepada Allah Ta’ala, dan bingkai syariat. Oleh karenanya mencintai mereka bukan berarti selalu mengikuti apa kata mereka, benar atau salahnya. Sebab Al Haq ahaqqu ayyuttaba’  – kebenaran lebih berhak untuk diikuti.
    Wallahu A’lam


    Dipersembahkan:Majelis Iman dan Islam

    Jangan Biarkan 'Kuncup' Kemaksiatan 'Berbunga…'


    Oleh: Ust. Abdullah Haidir Lc.

    Jauhi kemaksiatan sejak tahap awal atau stadium pertama.

    Meninggalkannya ketika masih gejala, lebih mudah ketimbang hati sudah terpenjara.....

    Imam Ghazali, rahimahullah,  berkata,

    الْخُطْوَةُ اْلأُولَى فِي الْبَاطِلِ إِنْ لَمْ تَدْفَعْ أَوْرَثَتْ الرَّغْبَةَ ، وَالرَّغْبَةُ تُورِثُ الْهَمَّ ، وَالْهَمُّ يُورِثُ  الْقَصْدَ ، وَالْقَصْدُ يُورِثُ الْفِعْلَ ، وَالْفِعْلُ يُورِثُ البَوَارَ وَالْمَقْتَ ، فَيَنْبَغِي حَسْمَ مَادَّةِ الشَّرِّ مِنْ مَنْبَعِهِ اْلأَوَّلِ وَهُوَ الْخَاطِرُ ، فَإِنَّ جَمِيعَ مَا وَرَاءَهُ يَتْبَعُهُ  (إحياء علوم الدين، 4/401

    "Langkah pertama kebatilan, jika tidak engkau cegah, akan menjadi keinginan.

    Keinginan akan melahirkan kemauan, kemauan akan melahirkan tujuan, tujuan akan melahirkan perbuatan.

    Pebuatan (batil) akan melahirkan kesengsaraan dan kemurkaan.

    Hendaknya potensi keburukan sudah dituntaskan sejak sumber pertama, yaitu lintasan pikiran, karena seluruh langkah berikutnya hanyalah kelanjutannya." (Ihya Ulumuddin, 4/401)

    Ibnu Qayim, rahimahullah, berkata,

    دَافِعْ الْخَطْرَةَ ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ صَارَتْ فِكْرَةً ، فَدَافِعْ الْفِكْرَةَ ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ صَارَتْ شَهْوَةً ، فَحَارِبْهَا، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ صَارَتْ عَزِيْمَةً وَهِمَّةً ، فَإِنْ لَمْ تُدَافِعْهَا صَارَتْ فِعْلاً ، فَإِنْ لَمْ تَتَدَارَكْهُ بِضِدِّهِ صَارَ عَادَةً فَيَصْعُبُ عَلَيْكَ الاِنْتِقَالُ عَنْهَا (الفوائد، ص 31

    "Usirlah lintasan pikiran (maksiat), sebab jika tidak engkau cegah, dia berubah menjadi pemikiran.

    Cegahlah pemikiran (maksiat), jika tidak engkau halau, dia akan berubah menjadi syahwat.

    Perangilah (syahwat maksiat), sebab jika hal itu tidak engkau lakukan, dia akan  berubah menjadi tekad kuat (azimah) dan keinginan besar (himmah).

    Jika tidak juga engkau cegah, maka dia akan berubah menjadi sebuah perbuatan.

    Lalu jika engkau tidak lakukan langkah penangkalnya, dia akan menjadi kebiasaan. Dan ketika itu, sulit bagimu meninggalkannya." (Al-Fawaid: 31)

    Dipersembahkan:
    Majelis Iman dan Islam


     
    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. Pejuang Subuh|Kota Bekasi - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by PS. Bekasi